|
![]() (foto diatas diambil dari salah satu bukit di Kupang yang memang berbukit-bukit) Bahasa yang mmm Kepergian, atau lebih tepat jalan-jalan, ke Kupang memberi banyak cerita lucu. Saat pertama kali mendengar mereka berbicara dengan logat yang membuat saya rada termangu-mangu. Satu saat saya hendak membeli sesuatu, si penjual tangkas menjawab,"Sonde ada". Ooops, untungnya dah belajar istilah kupang, sonde berarti tidak, belakangan saya dengar itu berasal dari kata bahasa Belanda, zonder yang sebenarnya lebih tepat berarti tanpa. Dan ternyata ada bahasa dan istilah lain yang juga sama-sama lucu, - penjual bensin yang menulis, 5000 sa...!!! - seorang saudara bercerita tentang sapi main bola Ternyata mereka suka sekali menyingkat kata jadi 5000 sa berarti 5000 saja dan sapi main bola berarti saya pigi main bola Seorang teman bercerita tentang uniknya jawaban orang Kupang saat ia bertanya apa orang atau mungkin juga barang yang ia cari ada, mereka bisa menjawab," Ada, sedang keluar," bukannya langsung mengatakan tidak ada. Selain kata-kata itu masih ada lagi : Pung = pu = punya Oe = air (banyak daerah di Kupang bernama depan Oe) Deng = dengan Su = sudah Belakangan saya juga memperhatikan bahasa sehari-hari di Kupang sangat mirip dengan gaya bahasa di Ambon dan Papua (2 daerah yang ingin tapi belum sempat saya kunjungi) Budaya yang unik Jika orang-orang di Jawa merasa cukup bersalaman, adalah sangat wajar untuk saling berpelukan dan bercium pipi saat bertemu saudara di Kupang, tidak hanya untuk pria dan wanita atau antara wanita tapi juga untuk pria dan pria. Dan yang bisa buat orang kaget adalah bercium dengan beradu hidung, hehehehe Untungnya saya sudah pernah mendengar ini jadi tidak kaget saat melakukan hal itu disana. Bemo yang ajaib dan makanan Kupang Meski sudah sering mendengar cerita ajaibnya bemo di Kupang yang dihias meriah dan sound system yang luar biasa, saya tetap saja bengong dan takjub saat melihatnya sendiri. Karena di Kupang saya diantar saudara atau teman juga sempat membawa kendaraan sendiri, meski sempat kehilangan orientasi sedikit, saya tidak sempat merasakan indahnya naik bemo dan baru merasakannya di luar Kupang. Selama sekitar satu jam, saat turun dari ferri di Pantai Baru, Rote, dan menuju Baa, ibukota Rote Ndao, saya duduk di samping supir, dan ya Tuhan, sound systemnya mereknya terkenal, kalau tidak salah Kenwood, mempunyai remote control, memutar musik dengan CD player, meski CD-nya bajakan. Lantas si pendamping sopir sempat juga mengeluarkan flash disk berisi lagu-lagu. Arrrgh, hebat sekali sound system disini bisa mengalahkan mobil pribadi di Jakarta, hehehehehe. Dan memang saya terhibur dan takjub selama satu jam perjalanan dari Pantai Baru ke Baa Makanan yang sering saya dengar adalah daging sei dan jagung bose dari Kupang dan memang itulah makanan khas yang sempat saya coba. Daging sei enak juga dan memang khas Kupang yang paling banyak dijual dari sapi dan babi. Kalau jagung bose, hehehe itu saya makan saat traveling keluar Kupang di kampung Suku Boti yang jagungnya rasanya unik. Bagaimana tidak unik, saya makan saat traveling sendirian di tengah kampung yang seperti suku Baduy di Banten, menolak kehidupan modern. Indonesia itu indah, unik, kaya akan budaya dan sebenarnya jauh lebih menarik daripada yang saya dapat bayangkan. Itu kesimpulan saya setelah jalan-jalan di Kupang (dan sekitarnya) Catatan : Cerita lengkap dan foto akan menyusul, semoga sempat menulis lagi. Entah kenapa saya sangaaaaaaaat ingin menjelajah Indonesia Timur di masa mendatang, belum lagi alam dan pantainya yang termasuk salah satu yang paling indah yang pernah saya lihat... Referensi (layak untuk dilihat) - Wisata kuliner Kupang http://www.tmore-online.com/tmore/content/rubric/24/238 - Daging Sei http://flobamora.blog.friendster.com/2005/08/daging-sei-dari-kupang/ - Cerita Sei http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/16/16045091/makan.sei.di.kupang |
| Leave a Comment: |