|
Perjalanan saya beberapa waktu lalu ke Taman Nasional Halimun Salak dan Gede Pangrango, berturut-turut membuat saya terpesona karena keindahannya. Jalur hiking termasuk air terjun, menuju Gunung Gede memang indah dan menyenangkan. Kawah Ratu di kawasan Taman Nasional Halimun Salak juga membuat saya terkagum-kagum akan fenomena alam yang indah. Namun selain keindahan alam yang luar biasa itu, satu hal sangat mengganggu yakni sampah yang membuat saya jengkel, kesal dan sangat merusak keindahan alam di Taman Nasional itu. Saya takut Taman Nasional itu dapat penuh dengan sampah satu saat nanti Kawah ratu, perjalanan menembus hutan Sesampainya di Gunung Bunder dan setelah menginap di warung, maklum saya mencari penginapan cuma-cuma dan sekaligus mendapat kemudahan memesan makanan, saya memulai trekking dipandu seorang warga lokal yang mengerti jalan menuju ke Kawah Ratu. Sang pemandu, yang saya lupa namanya itu, bercerita panjang lebar termasuk sejarah Taman Nasional dan kegiatan dia sebagai relawan Taman Nasional. Dari awal perjalanan karena tidak sempat membawa bekal makanan nasi siang, selama 3 jam trekking menembus hutan lebat, saya berbekal coklat dan biskuit untuk energi. Enak juga dan dapat menambah tenaga. Perjalanan pulang, selama sekitar 3 jam, juga menyenangkan. Tapi saya sangat terkejut, bagaimana tidak? Si pemandu membuang botol air mineral dan bungkus coklat pada saat kami beristirahat, sementara saya menaruh sampah di kantung celana dan daypack saya. Bingung, seorang pemandu yang seharusnya mengajarkan cinta lingkungan malah tidak peduli dengan sampah. Padahal dia juga sempat bercerita tentang keindahan alam yang sudah berkurang misalnya dengan kicauan burung yang jauh berkurang dibanding dulu. Rasanya kesal, tapi mau bilang apa lagi, saya cuma bisa mengingatkan dia tentang sampah, tapi apakah dia akan berubah setelah teguran saya? Entahlah, saya tidak yakin. Gunung Gede Di hari berikutnya, saya lanjutkan perjalanan ke Gunung Gede. Saya tersadar akan perbedaan yang jelas terlihat antara Gunung Gede, yang memiliki pohon-pohon yang terlihat jarang-jarang sehingga jarak pandang cukup luas, dengan pepohonan yang sangat rapat di Gunung Halimun Salak. Namun lagi-lagi keindahan terganggu dari pos pemberhentian yang punya banyak sampah. Saat beristirahat di air panas, saya juga sempat memperhatikan banyaknya sampah di sekitar aliran air, ampun daaah. Saat lanjut ke Kandang Badak, saya malah terbengong-bengong karena ada banyak sampah plastik di sekitar tempat pengambilan air. Pff rasanya kesal bener melihat sampah plastik berserak dimana-manan di Kandang Badak. Ternyata sepanjang perjalanan terutama di tempat banyak pendaki memasang tenda dikotori sampah-sampah plastik. Kesal? Jelas saya kesal melihat sampah itu meski untungnya masih tertutup dengan keindahan Gunung Gede terutama kawah dan Suryakencana. Setibanya di Gunung Putri, oleh-oleh sampah sebanyak satu kantong plastik akhirnya bisa saya lepas. Tapi kok sepertinya jarang ada pendaki yang membuang sampah saat turun ya? Semoga saja saya salah. Saat pulang, di angkot saya bertemu seorang ibu yang bercerita keindahan Gunung Gede di masa lalu. Saya tidak bercerita tentang sampah yang menggangu tapi herannya si ibu spontan bercerita tentang Gunung Gede yang tidak seindah dulu. Ia bercerita bahwa dulu ia sering menemani peneliti asing hingga tahun 1960-an disaat Kandang Badak masih memiliki kamar penginapan yang baik termasuk tempat tidur yang nyaman dan sampah yang tidak ada. Saya tersenyum waktu mendengar ceritanya kalau sekarang Gunung Gede sudah kotor. Peraturan-peraturan Meski Gunung Gede secara berkala ditutup untuk pendakian dan adanya acara bersih gunung, entah sampai kapan Taman Nasional ini dapat bertahan. Saya sendiri bukan anak gunung, cuma penyuka kegiatan alam bebas dan mungkin belum tentu sempat ikut acara bersih gunung karena kesibukan saya. Saya jadi bertanya-tanya adakah peraturan yang mengharuskan pendaki membawa turun sampah termasuk sanksi untuk pelanggarannya? Jika tidak ada, kenapa tidak dibuat demikian? Saya malah pernah mendengar jika pengunjung Taman Nasional di negeri jiran diharuskan membawa turun sampah. Bahkan pengunjung harus membayar sejumlah uang untuk jaminan, karena jika tidak membawa turun sampah, jaminan itu tidak akan dikembalikan oleh petugas Taman Nasional karena dianggap sebagai pembayar denda. Meski tidak bermaksud membandingkan, rasanya sukar untuk menolak kenyataan bahwa orang Indonesia rata-rata jorok sukar untuk disiplin. Di negara lain sampah malah bisa dipilah hingga berjenis-jenis sebelum dibuang, entah kapan Indonesia bisa seperti itu, tapi rasanya sedih juga melihat keindahan alam terganggu karena sampah. Saya bahkan sempat tersenyum, entah mesem-mesem atau nyengir, waktu seorang asing di forum diskusi para pengelana menyarankan agar orang asing lebih baik menjadi relawan pemungut sampah di Indonesia daripada menjadi relawan penyelamat satwa, hehehehe. Moral cerita : Ternyata tidak susah untuk mengatasi sampah, jangan buang sampah di gunung. Tidak susah memasukkannya di kantong sampah dan membuangnya saat turun. Satu hal lagi, Indonesia memang indah apalagi kalau tidak ada sampah dan naik gunung? Siapa takut? |
| Leave a Comment: |