Your Ad Here





   

<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



May 9, 2012
Belajar Bahasa Melayu

Meski saya adalah penutur asli bahasa Indonesia .. (ehem) ternyata saya tetap harus belajar dengan bahasa Melayu. Aneh?  Saya punya banyak alasan dan cerita tentang pelajaran bahasa Melayu dalam dan luar negeri.

 

Pelajaran Pertama

Saat pertama tinggal di kos, saya mendapati diri saya dikelilingi orang halak hita (baca: orang Batak) dan Pujakesuma yang berbahasa Melayu Medan atau dapat dikatakan bahasa Indonesia logat Medan yang membuat saya bengong, termangu dan bingung, mmm ini di Jakarta atau di Medan ya?

 

Satu malam, teman eh kawan saya berseru-seru dari balik pintu,”Pinjam belabas, ada kau?” saya bengong dan dia semakin berteriak,”Pekak kali kau?”

Ternyata belabas itu adalah penggaris, hah?

Lain waktu setelah belajar, dia bertanya,”Sudah siap kau?”, saya bengong lagi”Siap apaan? Emang mau pergi?” Eh ternyata siap maksudnya sudah selesai belajar.

 

Dalam kurun waktu beberapa bulan saya akhirnya dapat menyerap bahasa dan logat mereka dengan lancar sampai akhirnya sering disangka orang Medan saat berbicara logat mereka.

 

Pelajaran kedua

Pelajaran berlanjut saat berada di wilayah utara Sumatera hingga saya menyerap bahasa mereka dengan utuh. Dalam perjalan ke Medan tahun 2009 bersama istri saya langsung berbisik kepadanya untuk memanggil cowo dengan sebutan abang dan wanita dengan kakak. Maklum ini Medan, kakak hanya digunakan untuk wanita, ia sendiri sempat bengong melihat saya meminta pipet saat membeli minumanm, hehehe pipet artinya sedotan bagi orang Medan.

 

Beberapa kata berbeda yang sempat membuat bingung namun saya pahami belakangan dengan kata :

kereta dan motor yang bagi orang Medan berarti sepeda motor dan mobil berturut-turut, dan kata lainnya seperti

pipet,

tengok yang artinya melihat,

tampak yang artinya melihat

sikit yang artinya sedikit

kuat yang dipakai saat berbicara kuat (kalau di Jawa kadang disebut kencang untuk suara)

kutip yang bisa berarti petik (buah)

bergaduh berarti berkelahi

kacau untuk aduk

pusing yang berarti putar

pajak yang berarti pasar (mmm aneh ya)

ligat yang artinya lincah

kedai yang lebih sering dipakai daripada warung atau toko

Mocok-mocok, ecek-ecek dll

Malah di internet saya nemu kamus bahasa Medan

http://www.kamus-medan.blogspot.com/

 

 

Pelajaran lainnya

Satu hari di satu sudut hotel tempat pelatihan berlangsung saya berbicara tentang butuh sesuatu yang harus saya beli dan mendadak seorang teman asal Ambon tertawa karena menurutnya butuh itu berarti barangnya lelaki, haaaaaaaaa?

 

Belakangan saya menemukan cerita tentang bahasa Melayu sebagai lingua franca di Nusantara hingga ke timur Indonesia seperti terjemahan Injil di Papua abad 19 yang menggunakan bahasa Melayu, bahasa di Kupang yang menggunakan bahasa Melayu hingga bahasa di Jakarta yang memakai bahasa Melayu karena aslinya penduduk Jayakarta adalah penutur bahasa Sunda sesuai sejarah Sunda Kelapa sebagai bagian kerajaan Pakuan Pajajaran

 

Namun pelajaran terbesar adalah saat berkelana di dua negara Semenanjung Malaya dimana saya bingung lagi dengan bahasa mereka karena perbedaan arti kata hingga gaya bahasa dari pesawat hingga paling parah berupa bahasa hukum yang membuat saya menyerah

Bayangkan saat naik pesawat yang saya temui adalah

Maklumat penerbangan

Tali Keledar

Telepon Bimbit

Air minum semula jadi

 

Hingga di bank

Kadar faedah

Pernyataan Baki terkini

De el el

Elaun

 

Saya sadar masing-masing bahasa dipengaruhi Inggris dan Belanda meski bahasa Melayu Malaysia dan Singapura dipengaruhi bahasa Belanda juga seperti dilarang merokok, bahasa Portugis dalam kata gereja

Orang melayu tak paham arti kata tas karena berasal dari bahasa Belanda, tak paham arti karcis, besuk, kulkas, asbak karena berasal dari bahasa Belanda pula

Sebaliknya kita bisa mengerti kata serapan mereka dari Inggris seperti beg (tas), kempen (kampanye), bas (bus), hospital (rumah sakit) dll

 

Karena merasa tidak pede, saat berkomunikasi dengan bank dan kontrak saya lebih senang berbahasa enggres karena itu aman daripada bahasa Melayu yang bisa salah sangka seperti pejabat yang artinya kantor, menjemput yang artinya mengundang.

 

Mmmm, untung ada Google Translate yang menolong saya kalau penasaran hehehe karena rasanya ga ada kamus resmi Melayu – Indonesia. Itu sebabnya juga sinetron Indo yang terpaksa saya tengok, karena iseng tidak ada pilihan, di tengah malam mempunyai teks bahasa Melayu dan Upin Ipin juga mempunyai teks Indonesia. Mmm  jika di Belgia ada terjemahan flemish untuk acara TV Belanda meski perbedaan mereka jauh lebih sedikit apalagi untuk Melayu di Indonesia dan negara tetangga.

 

 

Posted at 01:10 am by androsa
Make a comment  

Apr 4, 2012
3 countries, 3 cities in 2 days ... and my story with budget airlines

Leaving an island of gods for sleeping in another country and get my baggage before my next destination in merlion city. Yes, last month was the highlight of my travel experience, thanks to budget air.

My arrival at midnight in Ngurah Rai surprised me with long queue for visa on arrival, well I was lucky for not being in the queu. Imagine that it was worse during, yes, I suppose they mostly arrive with budget airlines.

Leaving the island, I was only able to spend less than 24 hours only for packing my clothes etc before final departure to that city state. The good thing about self check in is I am able to arrive in the airport just 30 minutes before the the departure time. That's exactly what I did that afternoon.

I was cautious for bringing more than 7 kilos on my carry on luggage but in practice the staff never used that scale to check my luggage's weight despite the fact, I am quite sure, that my luggage is more than 7 kilos due to my books, suites, computers etc. Lessons learned, Air Asia is not as strict as Ryan Air or Easy Jet. I remember that Ryan Air will allow us to bring luggage without taking into account the weight as long as the volume or size is acceptable.

Arriving in Clark Quay, I was exhausted but still interested to take a walk around that area and shocked with the food prices, OMG it is similar prices than Amsterdam!

This highlight of my travel reminds me that i might be unfortunate for not being able to become frequent flyer since Air Asia, or other budget airlines, has no reward system and Big promo is merely a new credit card offered by the airlines group.

Budget air with pluses and cons

Personally, I call budget airlines hillariously as angkot air since the terminal resembles angkot terminal to certain extent despites lots of benefits. Perhaps I prefer LCCT as better place for waiting airlines especially if you have already passing the security and immigration since in KLIA LCCT you are able to buy drinks, food, books or even goods at duty free shop. It is way better than Terminal 3 where we had no access for food and drink unless you wanna use that lousy vending machines for coffee.

In my flight, i was indeed surprised to see a middle-aged woman who apparently has diplomatic status or coming from government offical background using Air Asia. Why did she use budget air and not use full service flight? Oops, budget air has more frequent flight than full service airlines therefore pricing is not the only main reason. Other than that, what airlines has midnight flight beside budget airlines?

The cons? I saw people boarding the wrong plane in LCCT, they were supposed to go to Bandung but managed to board a plane going to Jakarta. It was due to the lack of ground staff checking and helping the passenger. It is indeed a nasty tragedy that could happen in budget air.

At last, budget airlines is undeniably one of the biggest blessing for global citizen wannabe (who???) and avid traveller

Posted at 12:43 am by androsa
Comment (1)  

Mar 8, 2012
Being a global citizen, my personal story

Moving from one country to other country, constantly change residence, seeing culture shock as well as confusion on forein exchange and experiencing problem to mention about ultimate home of residence


Years ago, I didn’t know that the term global, not gombal, citizen did exist until my travel experience in meeting those citizens made comprehend that their permanent address is their email address.
I didn’t dare to dream it
until in 2007 and became a global citizen wannabe yet not knowing whether this thing is like unstoppable path for me until now. I began this “career” of this global travel and citizenship back in Netherlands which I eventually visited again.

Constantly moving
I once got a kind of rush and hectic week last year when I stayed in 4 different cities in three countries within just 10 days which, of course, made me exhausted. I spent 4 days of holiday in an island, going to the capital, took my family to the airport and left for another city state to visit an ill former boss.
I had to be quite thankful for budget airlines which significantly eased my travel itinerary when it comes to ticket booking and payment using credit card. I remember being asked by an immigration officer for return ticket and showed it on my tablet instead of printed version.

After months of using budget airlines, I dare to say that , to certain extent, Indonesian are able to say, hillariously, budget airlines as seen in Air Asia is somehow Angkot Air that I will need to elaborate in my other posting later

My concern is also about the fact that I will run out of pages on passport if I constantly move, Malaysian airport now has biometric and stamp-free entrance system so that its citizens are able to go through immigration process without stamping and just go through the machine. I semmingly need 100-page passport to avoid extending my current passport


Jetlag and forex confusion
Who said that jetlag is only about body? It is also about currency
I was in Changi Airport Singapore when I come to realize I have four currencies in my wallet, IDR rupiah, Malaysian ringgit , Euro and Singapore dollars. To make it worse, I almost paid with the wrong currency when I wanted to pay with coins.

I smiled when I heard a European tourist saying to the cashier, “Sorry I was wrong, I still think with Thailand Bath but now I have to pay with ringgit”. Now I could also similar problem
Just when I started to think in Malaysian ringgit, I needed to adjust myself the calculation whether the price set is expensive or not by converting to Indonesian rupiahs. Well, I did learn that everyone apparently has mental (basic) currency in their mind to understand that something is cheap or not. In my case, it is undoubtedly Rupiah....

I also understand the more I travel, the more I begin to collect changess which amount to unused coins. I even have coins from Sloty Polish, Cezch money (what it the currency name?), euro coins, rupiah “uang logam”, malaysian “wang syiling” and singaporean coins
Now I understand that there is a need for coin boxes where people could donate unused coins in airport and train station therefore foreign traveller could donate their money.

Skype saves my life
Skype is my saviour for communicating with my beloved family, friends and relatives. I am also grateful for tablet which is more convenient for calling and skyping. I dont need to use impractical calling card and even get chances to video chat with my lovely wife and my cute toddler when I was away.
I remember, all of a sudden, in Rotterdam because of downpour I had to stay in a cafe and had an unplanned video chat with my family, thanks to excellent free wifi there.

Conclusion
In short, it is indeed exciting experience to be this global citizen as my wife also called me. Meeting other global citizen is also interesting since I find people who are way more global than

Written in an apartment in Malay peninsula using a wimax internet connection :-)

Posted at 04:31 am by androsa
Make a comment  

Jan 26, 2012
Longing for eternal summer

“I wish this winter will go away, the weather makes me frozen from head to toe, I’m hoping for the sun”, and “This downpour will soon make the flood besiege my house soon, where is the sun?”

Human being has unquenchable longing thirst for summer. It is not merely sun-seeker westerners since asians, discreetly, also long for summer with different perspective. Those westerners are the ones craving for the sunbathing, looking for the tropical beaches, escaping freezing winter and couldn’t wait to sunbathe at the beach when sunshine is present. On the other hand, Asians hates the rainy season when sunshine is rarely seen, cloudy sky is common sight and continuous rain floods the earth.

Picture above : artificial coconut tree in Zandfoort, Netherlands

Looking for the sun

One day, in Iboih Island, I was not surprised to hear a French man’s story about his escape from winter that he spent some 5 months every year travelling in Asia. In the past, I along with my neighbours also cursed the inundated neighborhood due to the downpour in Jakarta and I remember clearly that we loved it when the sun eventually appeared after that non-stop rain all-day-long

Well, humans are intricate being whose desires are not easily met. I understand how people in Jakarta complain that the scorching sun burns them but once they go holidaying in Bali they seem like sun worshipper who look for sun every single day.

The best way

Personally I think that mediocre weather like Bandung in the past will be ideal for me but it is not ideal for surfers, divers or sea lover. My travel experience has taught me that I do love two things, going to the mountain and relaxing at the beach.

In a nutshell, I must admit that I love summer though at that time touristy place will be, usually, crowded, mountains attract many hikers, diving spot gets many divers and ticket price skyrockets.

Posted at 11:52 pm by androsa
Make a comment  

Oct 13, 2011
Cara mengenali orang Indonesia di luar sana ...

Ternyata selain bahasa dan tampang, masih ada cara mengenal orang Indo di luar sana. Dari bau, eheeem, selera makanan hingga produk Indonesia.

Di belanda, tergolong mudah mendengar orang berbahasa Indonesia atau bahkan bahasa Belanda logat Indisch. Tapi apa hanya dengan bahasa? Bagaimana dengan luar Belanda? Saya sendiri rasanya lebih sensitif mendengar orang berbahasa Indonesia di luar sana, entah kenapa.

Kalau tampang sih kadang tidak ada bedanya antara orang Indonesia, Malaysia hingga Filipina, malah saya pernah disangka Chinese, tapi ada hal lain yang membedakan. Bahkan pernah di Bali saya disangka bukan orang Indonesia karena bawa backpack gede.

Selera yang sama

Pernah juga kelaparan di Schipol, ada Toko –to-go yang menjual makanan Asia seperti rames dari pilihan daging sapi, ayam, tahu hingga udang, sayuran dan beraneka saus. Saya sempat menduga penjualnya orang Indonesia karena ada tulisan selamat makan di kedai mereka. Setelah memesan dalam bahasa Inggris,si penjual bertanya,” mmm Indonesia?”, hehehe tampang saya Indonesia kali ya, apalagi ngiler liat nasi. Maklum hanya mereka yang jual nasi di Schipol J

Rasanya kalau jalan-jalan pengen juga bawa sambal atau saus sambal, cuma kok repot ya. Maklum lah pecandu sambal dan nasi. Kalau masakan Chinese Food kan ga pedas jadi terasa kurang.

Produk Indonesia

Waktu jalan ke Prague, belum lama ini, ada seorang bertampang Asia yang kebetulan satu rombongan dengan walking tour mendekati saya,”Sorry I am under impression that you are from Indonesia?”,... mmm jelas saya bingung karena pagi itu saya didekati wanita bertampang Asia yang menyangka saya Filipino sama seperti dirinya. Sang wanita itu mengatakan,” I see from your travel bag,it is Eiger”, waaaks padahal merek eiger-nya dah mulai copot. Sorry bukan iklan tapi saya memang penyuka merek itu yang bagus dan harganya jauh lebih murah dari produk luar dengan kualitas sama.

Satu hari saya nongkrong di kafe di dekat kanal di Amsterdam waktu seorang bule mendekati teman saya yang merokok,”sorry, do you smoke kretek?”. Bagaimana saya tidak bengong, setelah itu dia bertanya,”Could I get one?”. Hahahaha ada orang Belanda kangen rokok kretek dan minta teman hihihih. Ternyata si bule cium bau kretek yang khas yang bagi orang Belanda lainnya, rata-rata dianggap aneh.

Di toko Asia, bisa dibilang orang Indo lebih memilih Indomie daripada mie instan negara lain secara rasanya lebih familiar. Saya sendiri suka Indomie dengan mie keritingnya, kalau yang lain mungkin karena rasa yang khas dan jaminan halal.

Logat Inggris versi Indonesia

Satu hari di keraton Yogya, saya tersenyum-senyum mendengar pemandu keraton berbahasa Inggris dengan logat Jawa. Rasanya bagaimanaaaaa gitu. Tapi memang sih orang Indonesia punya logat sendiri dalam bahasa Inggris, jadi kadang bisa membedakan mana orang Indonesia mana bukan. Sepertinya sama seperti logat Inggris dari orang Malaysia atau Singapura yang terasa beda. Katakanlah logat Inggris Indonesia walaupun pernah dalam gathering Couchsurfing, seorang warga Singapura mengatakan logat Inggris saya seperti orang (melayu) Malaysia. Halaaaah

Apa lagi ya? Ada yang bisa menambahkan gak ya cara mengenalinya?

Posted at 03:38 am by androsa
Make a comment  

Oct 6, 2011
Cerita Sate Belanda yang ....

Pernah makan sate burger? Atau sate dengan french fries? Atau sop gado-gado serta keju campur sambal?

Mc donalds londo bahkan menjual sate burger yang iklannya menampilkan orang bertampang indisch (indonesia)

Dalam iklan kita dapat mendengar logat indisch alias bahasa Belanda logat indonesia yang terdengar beda dengan logat Belanda asli. Ada komentator yang mengatakan kalau video terasa sedikit berprasangka tapi logikanya sate memang diperkenalkan oleh dapur indisch atau nusantara

Satu hari saya tertawa melihat sop gado-gado versi londo yang isinya saus kacang, sempat berpikir ini kreasi sang koki ternyata di amsterdam juga ada yang jual hihihi tidak hanya di Tilburg

Saus sate yang saus kacang

Di holandia, saus sate dijual bebas di setiap supermarket namun bisa membuat orang indonesia kaget karena bumbu saus satenya sangat halus tanpa ada jejak remah kacang tanah di dalamnya. Sate juga dijual di setiap supermarket dari ayam hingga babi :-)

Yang lainnya kita tahu bahwa saus sate tidak hanya dari kacang namun juga dari kecap atau campuran kecap dan kacang. Sate lilit bali malah tidak memakai kacang tanah. Sekilas saus sate belanda tampak seperti bumbu sate padang dengan rasa berbeda

Saya akhirnya memtuskan memakai saus sate dicampur bumbu pecel sebagai salad atau "pecel londo" dengan sayuran siap pakai dari supermarket.

Resto Sate

Di resto fine dining belanda, sate juga dihidangkan sebagai main course tentuny tanpa nasi karena didampingi kentang goreng atau roti :-) memang sate termasuk makanan indisch yang sekarang dianggap sebagai makanan belanda :-p

Sayang seharusnya banyak orang yang tahu serunya beragam sate nusantara dari sate lilit, sate padang, sate kikil, sate telur puyuh, sate kambing dll. Memang di beberapa resto bagus di Amsterdam juga menjual sate kambing tapi sepertinya belum bisa menjelaskan lengkapnya sate asli nusantara.

Dari yang kangen makan sate enak ....

Posted at 04:35 am by androsa
Make a comment  

Sep 29, 2011
NI hao.... mmm are you not Chinese? .. Who am I?

I was talking to a friend in Amsterdam Central Station when I heard someone behind me kept talking,”Ni hao... Ni hao”. Feeling curious, I looked back and found a Chinese looking man behind me was speaking to me. “What...?”, “You are not Chinese?”, he said to me. “Oh you are not Chinese!” he added without me giving answer.  Mmm, do I look like Chinese?

Where I come from?

Perhaps he tought I was Chinese because at that time I was talking to an Indonesian friend of mine who happened to have Oriental face. But me, are you kidding man? I might come from the Souther China but my complexion is nothing like an average Chinese.

But back home, when I went to Glodok and bought real bakpao, the dumpling with pork as filling, the vendor called me “Engkoh”. On the occassion, in Bogor’s Chinatown,  the pork satay vendor also called me Engkoh.  My wife was almost unable to believe on what she heard.

In Netherlands, someone  thought  I was Dutch perhaps as someone coming from Suriname, a former Dutch colony where a sizeable Javanese descent still live up to now.

One afternoon, taking my bike to go back home, somebody called, “Hoi  Carlos...!”. I looked back to find that  he replied “Sorry you are him, you seem like someone from South America”. 

That seems confusing for European or Chinese but it doesn’t end there.

Asian and deceitful age

A friend was shocked to know that I have a son and soon said ”Really and how old are you?”. I simply said that she needed to guess. “mmm... 26?”, she said.  OMG, I almost fainted when I burst out laughing and felt so happy that I look too young, hahahaha.

A week before, another collleague was really surprise to know how old I was. Indeed, he also made the same mistake to guess my age.

It’s a fact that Asian tends to look younger, not particularly for Indonesian but as far as I am concerned, perhaps alos for some friends, Asians tend to be deceitful when it comes to age.

FYI, age 26 is a kind crucial since on that age a person is still able to get discount for buying ticket but could also serves as sign of getting older once it is passed.

For me looking younger is perhaps supported by the fact that I don’t have beard nor fat J. Trust me I don’t  gain significant weight since the last 11 years J

Note :

It is not the first experience that someone thinks I am Chinese but  also India, Nepal  or Vietnam in Europe.

Posted at 06:20 am by androsa
Make a comment  

Sep 22, 2011
Mual (bau) ganja....

Pertama kali tiba di Centraal Station Amsterdam, saya terkesan dengan stasiun yang besar dan ramai tapi begitu keluar stasiun mendadak saya merasa mual. Ampun, bau menyengat itu seperti tidak mau hilang di sekitar Centraal Station. Saya langsung sadar, ini daerah turis non Belanda yang banyak menikmati bebasnya menghisap ganja di Amsterdam. Ganja memang legal di Belanda tapi tidak di negara tetangga di Eropa.

Coffee shop di negeri londo punya arti lain bukan sebagai warung kopi tapi tempat orang bisa merdeka menghisap ganja hingga soft drugs. Saya yang sedang jalan kaki atau naik sepeda bahkan pernah langsung tahu saya melewati coffee shop waktu mencium bau ganja yang menyengat.

Coffee shop juga tempat membeli space cake yang berisi soft drugs jadi tidak disarankan makan terlalu banyak dan pulang sendirian setelah makan itu.

Negeri londo punya kebijakan yang berbeda dalam hal drugs dibanding negara tetangga Eropa lainnya. Di negara lain termasuk negara Eropa, ganja adalah hal yang ilegal dan ada sanksi hukum.

Wisata ganja banyak dilakukan oleh turis Eropa karena hanya Belanda negara Eropa yang melegalkan ganja. Mungkin ini salah satu alasan pemerintah londo berencana membatasi penggunaan ganja di coffee shop oleh turis dengan membuat batasan terhadap turis asing.

Hal ini yang membuat saya terkadang malas melintas daerah turistik sekitar Centraal Station karena sampai sekarang masih saja suka mual dengan bau ganja di sekitar Coffee Shop. Mungkin karena saya tidak merokok kali ya.

Pernah saking “familiarnya” saya dengan bau khas itu saya kaget luar biasa mencium bau itu di Leuven, satu kota pelajar di Belgia. Lah, kan tidak ada coffee shop dan juga tidak legal di Belgia. Sepertinya, seperti cerita teman saya, terkadang polisi tidak terlalu keras sama ganja di sana. Sepertinya pengaruh Belanda masih terasa di sana.

Tapi cerita ganja rasanya tidak lengkap tanpa cerita ganja di nusantara

Ganja yang dimakan J

Satu hari di satu kota di provinsi paling barat nusantara, saya terkejut dengan kari kambing yang saya makan di satu kedai makanan ( perlu dicatat orang sana mengatakan warung sebagai kedai). Rasa kari itu enaaaaaak sekali, jauh lebih enak dari kari kambing di daerah lain.

Di lain kesempatan saya terbengong saat makan di satu rumah makan saat melintasi dengan bus menuju provinsi itu. Hah, nasi habis 4 piring? Apa yang salah ya? Saya tidak terlalu kelaparan saat itu. Kata-kata teman saya dan juga pendapat umum banyak orang melintas, makanan di sini enak karena ganja serta menambah selera makan. Benar tidaknya susah dicari pembuktian secara langsung karena rasanya jarang orang mau terbuka secara langsung tentang ganja. Kabarnya ganja dipakai untuk menambah rasa dan selera makan.

Salah satu produk khas lainnya adalah dodol ganja. Hehehehe untuk yang satu ini buktinya saya tahu. Memang tidak akan dijual langsung, tapi dijual berdasar pesanan dari orang yang dikenal sama produsen ganja. Besar pesanan berdasarkan pesanan pembeli misal beberapa kilo. Rasanya masih bisa diperdebatkan untuk mengatakan kalau makanan unik ini adalah hal yang ilegal karena tidak dipakai merokok walau efek sampingnya bisa membuat ngantuk dan menjadi “fly” hehehehe.

Pernah seorang kawan bercerita temannya yang kebanyakan makan dodol ganja mulai meracau dan bertingkah ajaib, hehehehe

Terkadang dari masalah moral dan hukum, rasanya sukar menghilangkan budaya “ganja” jika telah berlangsung beberapa generasi khususnya untuk budaya memasak memakai bahan rahasia tersebut. Tidak heran sampai satu rumah makan di Jakarta dengan menu khasnya sampai disebut-sebut memiliki sambal ganja saking enaknya dan bisa membuat orang ketagihan J

Catatan

-Cerita diatas tidak bermaksud menganjurkan adanya legalisasi ganja seperti pernah diserukan orang-orang di Indonesia. Saya sendiri tidak merokok apalagi ngeganja.

-Beberapa orang di Indonesia pernah meminta agar ganja dilegalkan di nusantara tercinta. Hal ini langsung memicu penolakan di masyarakat

-Di negara Eropa, juga pernah ada demonstrasi meminta agar ganja dilegalkan seperti dilihat di web ini. Menarik juga ternyata ada penelitian ilmiah tentang ganja.

- Menarik juga mendengar beragam pendapat tentang ganja dan makanan ganja.

Posted at 03:41 am by androsa
Make a comment  

Sep 7, 2011
Sakau atau kecanduan nasi, nasib pecandu nasi

Susahnya orang Asia pecandu nasi di negara non pecandu nasi. Akibatnya rice cooker dibawa masuk bagasi, masak nasi hampir setiap hari dan pergi ke toko Asia untuk mencari beras.

Setidaknya itulah apa yang saya rasakan waktu pergi tinggal di negara yang makanan pokoknya bukan beras eh nasi. Saya putuskan membawa rice cooker ukuran paling kecil untuk mengatasi kecanduan nasi tersebut. Memang sih di sini ada rice cooker sehingga mudah saja membelinya disini tapi ukurannya terlalu besar daripada keperluan saya pribadi yang malah untuk sekali masak nasi bisa untuk dua kali makan. Selain itu membawa rice cooker juga dapat membantu saya sejak hari pertama tiba jadi tidak terlewat tanpa nasi.

Seorang teman asal Eropa terbengong-bengong waktu tahu saya membawa rice cooker di koper saya.

Dulu teman satu apartemen yang Asia masing-masing memiliki rice cooker. Hah dasar Asia J

Manfaat

Selain memasak nasi, rice cooker juga berguna untuk buat pisang rebus atau ubi rebus, satu masakan kesukaan yang enak, sehat dan mudah membuatnya. Pisang rebus tentunya bukan dibuat dari pisang ambon tapi pisang tanduk yang kalau di londo disebut gebaak banan yang arti harafiahnya pisang goreng mungkin karena umumnya dipakai untuk pisang goreng.

Sebenarnya dulu di negeri tercinta, saya pernah memakai rice cooker untuk masak mie instan hingga rebus telur.

Di toko Asia belum lama ini saya bahkan melihat rice cooker tanpa listrik yang dimasukkan ke dalam microwave.

Jenis nasi

Untungnya masyarakat londo sangat terbiasa dengan nasi sehingga tidak harus selalu ke toko Asia. Di supermarket juga ada bermacam-macam beras sehingga membuat saya berkreasi dari beras basmati dari India yang panjang pipih, beras Jepang yang bulat-bulat pendek dan nasinya lengket, beras Turki, beras Suriname hingga beras Thailand. Pernah kapok memasak beras Jepang yang sepertinya tidak terlalu tahan lama atau kaget dengan beras basmati yang lucu bentuknya.

Gara-gara masak nasi, saya berkreasi dengan nasi uduk, nasi merah hingga nasi kuning. Sebenarnya masih ingin berkreasi dengan menambahkan daun pandan tapi bingung mencari daun pandan.

Oh ya, karena pengaruh Indonesia, nasi di Belanda juga sering disebut nasi bukan rijs. Karena memang yang kita makan memang nasi bukan beras J

Sakau nasi

Berapa lama saya bisa bertahan tanpa makan nasi? Rasanya paling lama cuma 2 hingga 3 hari dan setelah itu tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda sakau berat. Paling parah pernah di ibukota Spanyol, saya merasa sakau berat karena ternyata tidak ada yang jual nasi. Selaginya ada, ternyata itu resto Thailand dengan harga per porsi 20 euro.

Ternyata kecanduan nasi itu tidak hilang, siusah hidup tanpa nasi. Memang di nusantara tercinta saya terkadang bosan dengan makan nasi sehingga terkadang makan lontong, yang sebenarnya nasi juga, ketupat hingga lontong yang lagi-lagi bahan dasarnya dari beras.

Tinggal di negeri orang bisa membuat saya sadar bahwa saya adalah pecandu nasi meski tingkat kecanduan saya masih tidak tergolong terlalu parah hehehe.

Sumber foto : Getty Images

PS : Hal yang sebaliknya terjadi jika orang Eropa harus tinggal di Asia karena roti bukan makanan utama dan tidak disediakan sebagai makanan utama.

Posted at 04:13 am by androsa
Make a comment  

Aug 27, 2011
Mencari akar Belanda di Indonesia

Saya terbiasa sekali mendengar kata-kata seperti,”My father was born in Surabaya”, “I was born in Bogor”,”I am one fourth Indonesia” dari orang Belanda. Kaitan sejarah memang membuat hal itu terjadi, saya sendiri menemui beberapa hal menarik selama ini dari kaitan sejarah, makanan hingga warisan bahasa.

Akar dapat dibedakan antara warga Belanda yang mempunyai darah Indonesia atau campuran hingga Belanda totok yang pernah tinggal di Indonesia

Mereka yang berdarah Indonesia

Seorang teman asal Belanda memutuskan untuk tinggal di Indonesia setelah pensiun di umur 65 tahun, meski lahir di Bogor dan sempat tinggal lama di Hollandia atau sekarang disebut Provinsi Papua, dia putuskan untuk tinggal di Bali. Ia yang tampangnya Indonesia banget, pernah bercerita tentang perjalanannya ke berbagai tempat di Indonesia dan merasakan aura yang menjadi bagian dari dirinya, untuk merasakan kembali tanah kelahirannya. Ia akhirnya merasa nyaman tinggal di satu desa kecil di dekat Ubud sekaligus juga terlibat dalam kegiatan amal di sana setelah membandingkan berbagai tempat dari Yogya, Bogor hingga Bali. Tentunya pensiun Belanda yang ia terima lebih dari cukup atau bahkan, menurut ukuran Indonesia, sangat besar , untuk tinggal di desa yang nyaman dengan sawah di sekitar rumahnya serta antena parabola yang membuat ia mampu menyaksikan televisi Belanda J.

Satu hari seorang teman yang dari tampangnya saya saja saya sempat menduga ia berdarah indo, mendadak bertanya tentang kata-kata aneh asal Indonesia yang masih digunakan di keluarganya seperti aduh, monyet, upil, belek hingga *****t, hahahaha saya terpingkal-pingkal waktu menerangkan terjemahan itu apalagi kata yang saru. Ia mengatakan bahwa salah satu neneknya asli berdarah Indonesia dari Bandung. Ia sempat berujar tentang keinginginannya berkunjung ke Bandung satu saat nanti.

Satu hari seorang teman asal Jawa Suriname sempat bengong waktu liburan di Bali dan Yogya. Tampang jawanya membuat orang sukar percaya kalau ia tidak bisa bahasa Indonesia hehehehe. Liburan ke akar budaya rasanya unik.

Seorang teman pernah mengenalkan saya yang dari tampangnya Indonesia banget seperti tidak Muggle eh berdarah campuran dan ternyata memang ibunya lahir di Bogor. Ia tertarik untuk mengambil pekerjaan magang di Indonesia selama setahun. Rasanya cukup juga untuk mencari akar budaya dan keluarga yang belum pernah ia lakukan di negeri leluhur.

Mereka yang pernah tinggal di Indonesia.

Satu hari di satu restoran di Pantai Iboih, Pulau Weh saya kaget mendengar satu keluarga, suami istri dengan anak-anaknya yang sudah dewasa yang kira-kira berumur 40an tahun bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Saya yang sangat familiar dengan bahasa ini bahkan sehari sebelumnya bisa menebak seorang pria kalau dia berasal dari Belanda hanya dari aksen bahasa Inggrisnya setelah satu kalimat hehehe. Ternyata sang Bapak pernah tinggal di Medan dan Sabang selama beberapa tahun dan ia mencari kembali pengalaman masa kecil setelah puluhan tahun berlalu. Ia membawa keluarganya dalam perjalanan “ziarah”nya.

Waktu makan durian di Ubud karena kebetulan ada ibu-ibu yang jualan durian lokal seorang turis Belanda tersenyum mengatakan betapa ayahnya senang sekali makan durian waktu ia tinggal di Surabaya. Sayangnya ia tidak tertarik makan durian seperti ayahnya apalagi seperti saya J

Sayang beribu sayang wisata sejarah seperti ini tidak digarap, tidak hanya bagi orang Belanda tapi juga bagi penyuka heritage tourism. Di Indonesia juga tidak ada museum sejarah khusus Indisch terlepas dari kenyataan pahit tentang perjuangan kemerdekaan namun banyak fakta sejarah yang mulai dilupakan.

Bayangkan begitu banyak warga Belanda yang terbuang dari tanah kelahiran setelah kemerdekaan karena sentimen anti Belanda dan pimpinan negeri ini yang meminta orang Belanda angkat kaki dari negeri ini. Kedai es krim ragusa dan merek tua peninggalan Belanda seperti Sarang Sari (Limonadestroop) yang merupakan warisan dari warga Belanda atau Eropa yang angkat kaki setelah kemerdekaan Indonesia. Siapa sangka bahkan warga Belanda hitam (zwaart hollander) asal Afrika yang bergabung dengan KNIL juga harus angkat kaki dari nusantara. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa bintang Hollywood berdarah Indonesia seperti Michelle Branch, Van der Beek hingga Kristin Kreuk karena adanya migrasi warga Belanda asal nusantara yang tidak bisa atau tidak nyaman di negeri leluhur mereka di Belanda

Mungkin kata-kata Bung Karno benar juga dalam hal ini, jas merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Saya pernah menulis sebelumnya saya terlahir dalam latar belakang budaya yang berbeda yang membuat saya perlu mencari akar dari sang ayah dalam satu perjalanan yang sangat menyenangkan.

Sepertinya mencari akar keluarga adalah kebutuhan hidup yang sangat manusiawi.

Posted at 05:53 pm by androsa
Make a comment  

Next Page