<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Oct 21, 2009
Finding my lifelong travel companion

Life is such a long travel that I find it more meaningful when I share it with another person. Someone whose life would go through the same path of travel like me. I could even liken the process for finding a companion in my travel to a quest for lifelong travel companion in this life of mine.

A travel companion is indeed someone accompanying me in my journey. Someone whose presence could brighten and become a source of courage on my days when the going gets tough. A person with whom I could share the beauty, magnificence, and wonders of my journey.

As a travel freak, I long to go to more and more exotic and enchanting travel destinations but I find it more beautiful when I share a romantic place with someone.

 

 

 

 

(On this photo, I just imagine that the beauty of this place, the castle and everything in this beautiful town would be more meaningful if a real travel companion went together with me)

 

 

The off-beaten-path journey

Off-beaten path has made me see nature where mother earth teaches me how to deal with unpleasant situation due to unconvenient path, unfriendly path or bad weather. This thing, in turn, would disclose someone’s hidden personality. Fortunenately, my  zeal for outdoor travel has eased to see my companion’s  gem of characters.  I could see if that person cares for me, if that person is selfish or not or any other things

Determination and other things

Travel is indeed a journey to a destination. A journey that requires proper planning, good advice, careful study and on top of it strong determination. Proper planning is required when it comes to finding the right companion, good advice is likely received from our close friends, careful study is necessary when I need to ponder if the companion-to-be is the right person. Determination is needed since feeling itself is not the ultimate or most important thing of a relationship, the up-and-down mood is not reliable.

I know I wouldn’t be able to reach the peak of a mountain without strong determination. To reach it, we need determination not only feelings, so does love in every situation that needs determination and commitment instead of feeling

 

Travel companion

I know I might need to go through long winding road or dirt bumpy streets but travel companion would make it more cheerful and meaningful. I have faith that love of my love is the right travel companion. I also have faith that an imperfect travel companion is what I need since none of perfect travel companion does exist.   

 

At last, I am so glad that I finally find my lifelong travel companion.

Posted at 04:32 am by androsa
Make a comment  

Aug 27, 2009
Surga pengelana yang sering terlupakan

Bayangkan saja gugusan kepulauan terbesar di dunia yang menyimpan ratusan suku dan budaya yang paling beragam sedunia, surga para penyelam sejagat yang  juga menyimpan banyak gunung berapi aktif. Saking indah dan luasnya bisa dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menikmati surga yang satu ini

Bagi para pengelana, penggila jalan, inilah surga karena :

 

1. Surga budaya paling beragam sedunia

Pernah melihat budaya Asia dirangkum dalam satu negara, inilah tempatnya. Dengan ratusan suku budaya tersebar banyak sekali keragaman menarik disini

Saat pembukaan Olympiade Beijing,tampak sekitar 55 orang anak mewakili etnis yang ada di China, negeri dengan penduduk terbesar di dunia. China yang memiliki jumlah penduduk terbesar sejagat hanya memiliki tidak lebih dari 60 etnis, disini ada lebih dari 300 etnis dan ras berbeda. Ah, dimana lagi ada ratusan etnis dan budaya berbeda serta  agama berbeda hidup berdampingan.

 

Mungkin ini yang menjadi salah satu alasan Ann Dunham yang antropologist, ibunda Presiden Obama tertarik dengan keragaman negeri ini. Tentang keragaman, rasanya bingung juga melihat bapak pendiri bangsa bisa menyatukan negeri yang sangat beraneka ini. Jadi ingat pula cerita perjalanan Agustinus Wibomo (avgustin.net) tentang  perbedaan yang mencolok dan menyakitkan dari Pakistan dan India yang ia saksikan saat ia berkelana melintasi India dan Pakistan

 

Mungkin Guiness Book of World Recorld perlu mencatat rekor ini keragaman terbesar di dunia dalam hal suku asli. Saya sendiri pernah mengalami gegar budaya saat berpindah tempat tinggal di kota dan pulau yang berbeda, tidak percaya? Coba saja pindah dan nikmati indahnya budaya setempat.  Rasanya bila ada parade budaya antar bangsa dengan menampilkan keragaman dalam satu bangsa, kita sudah tahu siapa yang jadi pemenangnya

 

Tentang etnis Asia yang hidup bersama yang digencarkan satu negeri jiran yang mengaku "Truly Asia" bahkan dapat ditemukan di Medan. Ada kampung keling yang menyimpan kuil Hindu serta tradisi India yang masih hidup, warga Tionghoa yang masih dapat berbicara bahasa leluhur, orang Jawa yang masih berbicara Jawa serta terdapat istana Melayu di tengah kota. Sayang tidak banyak orang sadar dan wisata disana tidak diatur rapi.

 

Bagi pengelana pecinta budaya, inilah surganya, maklum saja para penggila jalan biasanya senang dengan budaya dan eksotisme satu budaya. Bagi iklan pariwisata, slogan "The World's Richest Cultural Diversity " dapat menjadi slogan yang benar-benar  "Truly Asia" hehehehe

 

2. Surga ribuan pulau

Dengan lebih dari 17.000 pulau seperti dicatat oleh Wikipedia, rasanya mudah sekali memilih pulau cantik untuk wisata tidak hanya Pulau Dewata yang memang terkenal sejagat.

 

Tidak heran banyak pendatang yang tergila-gila dan memilih tinggal di surga tropis ini. Trinity dalam blog-nya (http://naked-traveler.com) menceritakan keterkejutannya akan Pulau Cubadak yang dikelola orang Italia sehingga ada orang Italia yang pertama kali datang ke surga tropis ini malah datang ke Cubadak.

 

Di Alor, yang semoga anda tahu lokasinya (http://en.wikipedia.org/wiki/Alor_Island) juga terdapat resor yang dikelola pasangan Perancis (http://www.la-petite-kepa.com/) yang menarik tidak hanya turis asing tapi juga turis lokal.

 

Tidak jauh dari Jakarta ada ratusan pulau yang dapat dieksplorasi, namun rasanya bayangan akan keindahan kepulauan di bagian timur menanti jelajah yang menantang, apalagi Raja Ampat. Walau sempat bingung melihat kepulauan yang cantik dari ujung ke ujung, Pulau Weh saja teramat layak untuk dikunjungi.

 

Luasnya bentang kepulauan sangat menakjubkan,mungkin seperti bentang dari pantai barat Amerika ke pantai timur Amerika, atau seperti dari Irlandia menuju Irak. Tidak heran pernah seorang teman asal Belgia yang menanyakan kabar tsunami dan anggota keluarga saya yang menjadi korban, saya jawab tidak ada karena sama saja dengan menanyakan kabar tsunami di Portugal kepada satu keluarga di Denmark.  Kira-kira perlu 6 jam untuk terbang dari ujung barat ke ujung timur.

 

Rasanya slogan "The World's Biggest Archipelago" dapat menjadi tujuan dalam iklan promosi surga kepulauan terbesar di dunia

 

2. Surga para  penyelam

Dengan ribuan pulau dan banyaknya surga tropis pastilah jauh lebih mudah mencari terumbu karang terbaik di dunia dibanding negara lain manapun di dunia

 

Ada cerita nyata seorang Eropa yang berkunjung ke Raja Ampat, dia ternyata tidak menyesal menyelam disana meski terkena malaria. Ternyata malaria tidak bisa mengalahkan indahnya surga penyelam ini

 

Ah terlalu banyak tujuan menyelam, tidak heran, surga kepulauan terbesar di dunia, dari Bunaken, Weh, Bali, Derawan, Raja Ampat,  ah terlalu banyak. Gili Trawangan malah pernah disebut sebagai tempat belajar menyelam terbaik di Indonesia.

 

"The World's  Biggest Paradise for Divers" , rasanya julukan itu tepat juga ya

 

3. Surga pecinta gunung berapi

Pernah saya bertemu pasangan Perancis yang akan menghabiskan waktu empat bulan berkeliling negeri hanya untuk menyelam dan menjelajahi gunung berapi. Perasaan saya, sirik luar binasa ....... mereka bahkan melakukan visa run ke luar negeri karena visa wisata hanya 2 bulan.

 

Satu kesempatan, saya bertemu seorang asing yang bertekad menjelajah sebanyak mungkin gunung berapi di Jawa atau luar Jawa dan memberi saya link ini

http://www.peaklist.org/WWlists/ultras/indonesia.html

Baru saya sadar keragaman gunung berapi disini, ampun saya nyaris lupa akan keindahan negeri sendiri

 

Rasanya "The World's Haven for Volcanoe Hikers" adalah slogan yang tepat.

 

4. Surga yang belum banyak dieksplorasi

Saking melimpahnya tujuan wisata, bahkan kitab suci para pengelana sejagad, planet kesepian alias Lonely Planet malah belum sempat mencatat seluruh keindahan yang ada di surga kepulauan ini. Ada air terjun Sekumpul yang indah, satu ngarai indah yang memuat paling tidak 4 air terjun yang berdekatan, latar belakang pegunungan yang cantik. Sawarna di Banten yang cantik baik untuk surfing, trekking atau caving, Museum House of Sampoerna yang cantik dan berkesan, Kiluan tempat lumba-lumba menari... ah banyak bener. Di luar Jakarta, masih ada Gunung Pancar yang layak menjadi tujuan trekking menarik termasuk air terjunnya, sepertinya peneliti kitab planet kesepian perlu mendapat info tentang off-beathen path di negeri ini.

 

Jadi apalagi? World's Haven for Off-Beaten-Path destination? 

 

5. Surga Kuliner

Sebenarnya masih ada lagi, surga makanan, rasanya sukar menolak keragaman makanan yang dahsyat, maknyus dan muantap di negeri ini. Sebagai masyarakat yang suka berkumpul, penduduk negeri ini senang berkumpul sembari makaaaaaaann.

Mungkin negeri ini butuh lebih banyak lagi orang seperti Bondan Winarno yang menjelajahi kekayaan kuliner negeri ini. Rasanya wajar mengatakan makanan sangat beragam karena keragaman suku budaya di negeri, belum termasuk makanan impor.

 

Jadi World' Paradise for Food lovers? Sepertinya tidak salah, meski kebersihan sangat wajib dan kudu diperbaiki....

 

Info dan info

Sayang tidak ada informasi yang lengkap seperti diluar negeri sana, ada information center di tiap stasiun kereta, bandara dan tempat wisata yang menyediakan brosur berlimpah, untungnya komunitas penggila jalan sekarang mulai menjadi hal umum, disanalah tempat berbagi yang menarik.

 

Orang asing bahkan akhirnya tergerak membuat informasi tentang traveling di surga pengelana :

  1. East Indonesia Info (http://www.east-indonesia.info)

Berisi info yang cukup lengkap tentang Indonesia Timur seperti Maluku dan Papua, hal yang menarik disana dan hal praktis lainnya

  1. Free unbiased travel advice about Sumatra (http://www.sumatra-indonesia.com)

Website ini berisi hal-hal menarik di Sumatra dari Bukit Lawang, Tangkahan, Bukit Tinggi hingga keanekaragaman budaya

  1. Indonesia Traveling (http://www.indonesiatraveling.com)

Dalam web ini malah ada cara bepergian dengan jalan laut, darat serta taman nasional

 

Cerita pengelana

Ludovic Hubler (ludovichubler.com), seorang pengelana hitchiker yang berkeliling dunia dengan hitchiking selama 5 tahun mengatakan bahwa ia menemukan lebih banyak senyum di satu tempat Jakarta daripada yang ada di Paris. Surga tropis ini memang penuh orang-orang yang suka berkumpul, "mangan ora mangan kumpul" tidak terbatas pada orang Jawa saja.

 

Seorang pengelana sepeda (Cuba-to.de) yang berkeliling dunia terkesan dengan negeri yang sangat luas, bertemu komunitas penggila sepeda di Jakarta dan Batam yang ia bilang gila, sangat menyenangkan.

Di situs Lonely Planet tepatnya Thorn Three Forum penuh dengan cerita menarik tentang surga tropis ini banyak diantaranya mengaku terjangkit virus jalan-jalan di surga pengelana ini dan mau berbagi pengalaman dari yang sangat menyenangkan hingga yang tidak menyenangkan

Dalam situs Travel Blog  (http://www.travelblog.org/Asia/Indonesia) terdapat banyak kumpulan blog dan catatan perjalanan menarik dari orang asing di Indonesia, kebanyakan bercerita tentang kesan menarik yang mereka dapat di surga tropis ini, menarik sekali membaca tulisan mereka karena dari sudut pandang orang asing.

               

Memang..

Ya memang negeri indah ini punya banyak kekurangan, negeri ini tidak memiliki kota-kota cantik seperti kota di Eropa, tidak ada jaringan kereta yang menyeluruh dan tepat waktu, tidak ada tourist information center yang baik, harga pun dibedakan antara pengelana asing dan pengelana dalam negeri.

Masalah sampah sangat mengganggu, ditambah polusi udara dan kemacetan seperti di Jakarta, entah kapan orang Indonesia sadar dan tidak buang sampah sembarangan bahkan di gunung dan hutan banyak orang Indonesia buang sampah seenaknya.

 

Selain itu  transportasi umum tergolong rumit, jadwal yang sering tidak tepat waktu dan yang paling menjengkelkan adalah para teroris yang senang menabur rasa takut.

 

Tapi...

Masalahnya apakah banyak orang asing tahu surga ini? Bagaimana orang asing tahu jika kita sendiri tidak tahu malah pengelola negeri ini seperti tidak tahu apa yang ajaib dan menarik para pengelana di negeri ini.

Sehingga berbagai kenyataan dari "The World's Richest Cultural Diversity" yang Truly Asia, "The World's Biggest Archipelago", "The World's  Biggest Paradise for Divers", "The World's Haven for Volcanoe Hikers" hingga World' Paradise for Food lovers rasanya sanggup membuat penduduk negeri ini sadar dan bangga akan keindahan negerinya sendiri... surga yang sering dilupakan para pengelana

 

 

Salam

 

 

Penggila Jalan dan Pemikir Ilmu Jalan-jalan (halaaaaaaah)

 

 

Posted at 01:41 am by androsa
Make a comment  

Jul 30, 2009
A congregation of travellers

 A house of worship having multitude of travel lovers who are zealously ready to travel around the globe. What is it? It may sound odd to hear that though it could be true to some extent. Precisely speaking, it is a church whose youngsters are so eager to spread the good news to almost every corner of the world.

 

On a street near my home near the coastal region of Jakarta, I was surprised to see at two young men, one caucasian guy  and the other was apparently Indonesian. A few weeks before I happened to see a group of these young men in Rome’s Terminus train station where they grouped near one gate. They all wore similar attire, white shirt along with black trousers as well as a black name tag with their name printed on it. Amazing, they are everywhere ! This is what I call as travel lovers whose temporary job is the so-called missionary. Lately, last week I saw those young men again, as always they work in team of two men, in the main street of Jakarta. It is not to mention that last year I saw them in Jakarta Kota train station  

 

I am talking about Mormon church or also known as the church of saints of latter days. Every years, thousands of its young members go to doing missionary work in foreign countries. They travel, live in foreign country to do street evangelism. I am not going to talk about their controversy or debatable bible version of Mormons, it is just that amazing to see a congregation sending thousands of followers to many countries every summer to spread their belief. I even consider that this church, whose headquarter is in Utah, US,  has been truly travel conscious than any other denominations

 

Apart of their zeal for their missionary work, it takes strong interest for travelling to enable someone to do this job. If someone is not interested for travelling, it would be quite difficult to do that.

 

It reminds of the world’s biggest missionary institution called Youth With A Mission or YWAM. Thanks to divine intervention, their headquarter is beautifully located in  Kona, a Hawaian region with amazing surrounding. Apparently the Omnipotent One has known that He needs to bestow the magnificent view for missionary wannabe.

 

In the middle age when the missionary work might still be in its heyday, I wonder what typical characters required from a missionary, I think that one of them is, undoubtedly, strong willingness for travelling. Imagine that a man from civilized world left everything behind for encounters with new “uncivilized” world, to explore new undiscovered tribes, get first-hand experience with exotic cultures, endure long travel to arrive in breattaking tropical paradise. Does it seem familiar for travellers? Travel lovers are in love with traditional tribes, exotic cultures, meeting new friends from different background, enjoying tropical paradise or breathtaking view.

 

Despite the differences, travellers and missionaries have something in common, a need for bible. The “slight” difference, as I assume like that, is the name for missionaries they must have what their own holy bible that is not going to be updated, it is totally fixed. On the other hand, travellers would use their bible that is always updated perpetually and periodically published by certain publishers like Lonely Planet.

Posted at 02:54 am by androsa
Make a comment  

Jun 4, 2009
Military look alike hingga tampang mahasiswa

Entah mungkin penampilan saya memang seperti tentara sehingga beberapa kali disangka anggota TNI. Tapi selain itu pernah juga disangka mahasiswa pecinta alam yang berpetualang, pernah juga saya disangka TKI Hong Kong, ampuun dah.

 

Salah sangka ini bermula beberapa tahun yang lalu dan beberapa kali terjadi di angkutan umum. Dari sopir angkot, penumpang kapal jurusan Medan – Jakarta sampai polisi pernah menyangka saya polisi. Kalau sopir dia bertanya standar,"Dinas di mana Pak?", seorang bapak di bus Kupang – Soe bertanya."Tugas di kesatuan mana?" tapi yang paling seru waktu disindir-sindir sama polisi di Tebing Tinggi.

 

Tengah malam waktu di Tebing Tinggi saya kelaparan dan mengajak seorang teman naik motor mencari makanan. Sedang asik menunggu makanan disiapkan untuk dibawa pulang eh ada beberapa orang polisi berbicara keras, pertama dalam bahasa Batak dan kemudian dalam Bahasa Indonesia, dan saya merasa mereka menyindir seseorang dengan berseru kuat-kuat,"Sudahlah sudah malam ini, carilah kesempatan untuk orang lain cari makan!!!!" Hah, siapa yang mereka maksud, tapi anehnya mereka tidak menoleh ke arah saya sama sekali. Belakangan saya sadar, ampuuun saya disangka tentara dan polisi itu merasa saya terlalu rajin mencari duit di tengah malam, takut saingan mereka.

 

Tapi tampang tentara justru mengerikan waktu saya harus pergi ke Aceh, bagaimana tidak, GAM waktu itu masih berkuasa di jalan-jalan dan menculik orang sipil apalagi tentara. Akhirnya saya bersiap-siap tidak potong rambut cepak waktu berada di Medan karena takut kalau harus ke Aceh dengan berambut cepak. Untunglah Aceh sudah damai  

 

Kejadian terakhir baru saja sebulan lalu, mungkin karena berbaju biru dan bercelana coklat serta rambut cepak, yah disangka tentara lagi. Pernah juga saat mengambil lisensi selam, saya dilatih para tentara AL eh sempat disangka tentara juga :-P

 

Tampang mahasiswa

Dalam kunjungan ke Taman Nasional Baluran, saya langsung disangka mahasiswa pecinta alam, hehehe mana percaya mereka kalau tahu saya orang kantoran waktu melihat saya dengan backpack besar. Begitu juga waktu di Soe, saya disangka mahasiswa dengan backpack besarnya.

 

Di Eropa, saya pernah ditawari tiket mahasiswa yang sayangnya saya sudah ketuaan hahahaha, tapi sepertinya tampang saya terlihat hemat dibanding umur apalagi kalau dibanding orang Eropa yang rata-rata boros tampang

 

Salah asal

Entah beberapa kali orang sangka saya orang Batak, mungkin aura orang Batak dah saya serap jadi disangka Batak. Memang saya banyak teman akrab orang Batak.. Mereka tambah bingung saya mengerti adat orang Batak hehehe gak sia-sia akrab dengan orang Batak

 

Waktu di Timor, beberapa orang langsung menyapa saya dengan panggilan Mas, Panggilan ini terasa lain karena ini menandakan mereka menganggap saya orang Jawa karena mereka di Timor memanggil orang lebih tua dengan panggilan kakak. Hehehehe Jawir juga ya saya ini.

 

Yang aneh di Bruge, Belgia saya disangka orang Nepal, hehehe sempat bingung dan akhirnya baru sadar ada pameran budaya Nepal disana. Kalau disangka orang Filipina lebih sering lagi maklum banyak pekerja migran Filipina disana.

 

Tapi pernah saya terbengong-bengong waktu disangka TKI dari Hong Kong saat petugas imigrasi bandara Cengkareng melayani saya. Ooops, lupa banyak TKI di Hong Kong hehehe padahal saya hanya transit di Hong Kong sebentar. Ah saya lupa memakai jaket kulit saya supaya lebih keren.

 

Biar bagaimanapun masih bersyukur karena masih dianggap manusia kan? Hehehehehe halaaaah

 

Pesan moral :

- Beruntung disangka tentara daripada disangka copet :-P

- Stereotype itu tidak enak apalagi kalau salah menilai orang.

 

Catatan :

-  Jadi kangen Medan serta Aceh entah kapan bisa menjelajah daerah itu lagi

- Cerita ini menyambung tulisan sebelumnya tentang jelajah Timor Barat yang seru bener.

 

Posted at 12:28 am by androsa
Make a comment  

May 5, 2009
Jelajah Suku Boti - Timor Barat

Jelajah di Timor Barat? Apa yang menarik? Pertanyaan ini berhenti saat saya putuskan pergi ke Boti, suku asli Timor yang menolak kehidupan modern. Petualangan ini membawa saya seperti pergi ke Timor di awal abad 20 dengan bonus pemandangan alam yang menarik dan budaya serta adat Timor yang menarik


Waktu saya bimbang akan tempat penjelajahan di Timor dari Kupang, seorang teman menyarankan saya pergi ke Boti, satu suku asli Timor yang sampai sekarang menolak kehidupan dan agama modern. Suku yang terletak di satu daerah perbukitan di dekat Soe, kota di Timor Tengah Selatan (TTS), ternyata pernah saya lihat di tayangan teve sebelumnya. Akhirnya dengan bertekad bulat disertai rasa penasaran saya dan rasa bingung saudara-saudara, saya putuskan pergi menjelajahi Boti dari Kupang

Penjelajahan
Dengan menumpang satu bus saya berangkat menuju Soe, tempat perhentian sebelum tiba di Boti. Dengan menyusuri jalan berkelok-kelok, semakin lama cuaca terasa makin sejuk karena jalan membawa saya ke daerah perbukitan. Pemandangan perbukitan membuat sejuk di mata. Ternyata Timor bagian tengah terlihat subur dan cuacanya tidak sekering yang saya duga. Saya juga sempat tertawa melihat babi berteriak protes waktu diikat di belakang bus, ingin rasanya keluar dan mengambil gambar si babi malang, sayang tidak sempat. Sempat juga bingung waktu ditanya kesatuan tempat saya bertugas oleh seorang bapak yang duduk di samping saya. Halaaah, saya disangka tentara, hahahahaha.

Setiba di Soe, tugas pertama adalah mencari hotel atau penginapan yang layak dan murah. Dari rencana menginap di Hotel Bahagia, ternyata saya turun di Hotel Bahagia II yang agak jauh dari pusat kota, dan ternyata ada mobil UN diparkir disana, Walah sepertinya staf PBB urusan pengungsi dan Timtim masih ada di sini. Lanjut makan di warung depan hotel nasi campur dan susu kedelai yang hargaya cukup mahal untuk ukuran Timor, karena saya membayar hampir 20 ribu rupiah, Kok tidak jauh beda dengan harga di Jakarta ya?

Karena ingin mencari hotel yang lebih di tengah kota dan berharga lebih murah, saya mencari tukang ojek yang membawa saya berkeliling karena ternyata hotel Bahagia I sudah penuh juga dengan hotel lainnya. Akhirnya kitab suci para pengelana ciptaan Tony Wheeler (tahu kan???) menyebutkan homestay milik Pae Nope. Waktu saya telepon, seorang wanita tua menjawab dan mengatakan kamar mereka kosong, aaaaah aman untuk urusan hotel dan homestay juga terletak di pusat kota jadi mudah mencari makanan serta supermarket. Karena perlu makanan kecil serta keperluan mandi yang kurang, saya berkunjung ke pasar swalayan yang ternyata harganya tidak beda jauh dengan Jakarta.

Pagi-pagi disaat sedang siap-siap sarapan dan mencari info dan pemandu untuk menuju Boti, ternyata Pae Nope, sang pemilik homestay sudah pulang dan mengajak saya masuk ke rumahnya. Kebetulan sekali, selain dia ada pula para pejabat pariwisata di Soe. Wah saya berasa wartawan karena banyak reporter datang ke Boti mencari bahan berita, hahahahaha. Jadi mereka sempat pikir saya wartawan dari Jakarta. Tapi mereka akhirnya menghadiahi saya VCD tentang pariwisata di TTS.

Menuju Boti
Dengan naik motor "laki" yang dibawa seorang pria bernama Tuan yang dikenalkan Pae Nope, saya mulai perjalanan menuju Boti. Sebelumnya tak lupa makan siang di warung Jawa yang menyajikan makanan murmer dan enak. Jalanan mulus membentang hingga satu simpang sekitar Oenlasi dimana saya membeli minuman dan istirahat sejenak.

Jalan mendadak berubah menjadi sangat terjal, berbukit-bukit yang membuat saya agak repot menahan badan di motor serta ransel di punggung. Untunglah pemandangan alam yang menarik menghibur saya. Setelah melewati beberapa gerbang, saya tiba di perkampungan suku Boti tepatnya di dekat tempat tinggal Kepala Suku Boti.

Tiba di Boti
Ah, saya beruntung sekali, selain pemandu saya ternyata bisa bahasa setempat, ternyata saya datang saat mereka berkumpul secara adat. Adat suku Boti mewajibkan mereka berkumpul setiap hari kesembilan dan disanalah saya berkumpul bersama melihat para tetua pria berbincang-bincang dan para wanita berkumpul untuk menenun. Mereka bahkan datang dari desa-desa yang jauh, bahkan hingga 2 jam untuk berkumpul.

Pakaian orang Boti, meskipun hampir semuanya sudah terbiasa memakai kaus atau kemeja modern tapi mereka tetap teguh memakai kain tradisional melingkari pinggang dan kepala mereka. Kain tradisional yang mereka tenun sendiri tapi ternyata ada juga seorang ibu yang memakai kain batik juga :-P.



Saya sempat kaget ternyata Kepala Suku tidak bisa bahasa Indonesia, untunglah anggota suku lainnya bisa berbahasa Indonesia dan ternyat mereka cukup ramah. Saat melihat buku tamu, walaaah banyak benar tamu mereka dari dalam dan luar negeri. Tapi jarang ada tamu dari Jakarta seperti saya, hehehehe. Sempat saya ditanya kepala suku agar saya tidak takut pergi sendirian ke Boti, walah kalau takut buat apa berangkat. Rombongan yang datang rata-rata berkelompok dan harus memakai mobil khusus 4 WD karena jalan yang aduhai menuju Boti

Malam yang syahdu
Di sore hari para tetua pulang ke rumah masing-masing, suasana makin gelap dan saya baru sadar listrik telah masuk ke rumah kepala suku, yang ternyata disumbangkan dinas pariwisata setempat, tapi tetap saja suara binatang membuat malam terasa lain sekali jauh dari kota.

Pada saat pertama datang, saya tidak berani mencoba sirih. Maklum belum pernah dan takut tidak kuat, akhirnya malah mencoba keripik singkong yang entah mereka beli dimana. Malam itu makan malam terasa nikmat dengan jagung bose, singkong tumbuk, nasi putih, kerupuk dan ayam (kampung) sayur. Saya bahkan suka sekali dengan sambal bubuk mereka yang rasanya enak.

Waktu malam semakin larut, saya sempat berbincang panjang lebar dengan seorang pemuda Boti. Dari hama tanaman di ladang seperti monyet dan kakaktua. Monyet disana bahkan dapat mencabut singkong dari tanah dan akhirnya orang Boti memelihara anjing untuk mengusir monyet pengganggu.

Malam itu diantar suara alam yang bersahutan, ditemani lampu minyak yang temaram, saya bisa tidur dengan nyenyak sendirian di kamar guest house. Suara angin, serangga, hingga suara ternak membentuk satu konser nyanyian alam yang indah.

Selamat pagi
Setelah disegarkan dengan sarapan singkong rebus, kopi dan keripik pisang, saya berkeliling melihat rumah mereka. Khas sekali rumah mereka, dibuat dari gewang, semacam pohon lontar. Dinding rumah dibuat dari daun pohon gewang, tidak seperti bambu di Jawa. Atap rumah dibuat dari ijuk. Gewang, pohon khas Timor, memang banyak gunanya.

Lopo, rumah tradisional Timor, masih digunakan di Boti seperti daerah Timor lainnya. Bentuknya unik, tanpa jendela dan berpintu rendah.

Hari itu saya juga sempat melihat mereka menenun yang hasilnya mereka pakai sendiri dan mereka jual. Tenun ikat mereka indah, warnanya unik. Proses tenun dimulai dari saat mereka memintal benang, mencelup warna hingga akhirnya menenun yang mereka lakukan bersama-sama.


Sebenarnya masih banyak yang saya mau lakukan, dari pergi ke ladang mereka yang letaknya berjam-jam berjalan kaki sampai mencari burung kakaktua namun sayang waktu membatasi.

Sebagai penggila foto, saya sempat memfoto orang-orang Boti dan sempat berjanji akan mengirimkan foto kepada mereka disana sepulangnya saya dari Boti. Album foto di rumah kepala suku bahkan berisi foto-foto karya Photo voices yang mengadakan photo hunting disana. Bahkan ucapan terima kasih dari beberapa stasiun teve dapat juga dilihat di buku tamu yang tebal

Pulang
Setelah makan siang, diantar motor "laki" kembali, saya pulang dengan menuju Oenlasi. Lagi-lagi sempat repot dengan jalanan yang aduhai meski pemandangan alam cantik tersaji di depan mata.

Ternyata tidak perlu lama menunggu di Oenlasi untuk mendapatkan bus menuju Kupang. Sempat saya tergoda menjelajah bagian lain dari TTS hingga Timor Leste namun apadaya waktu terbatas dan lupa membawa paspor. Sepertinya jika Tuhan mengijinkan saya akan mengulangi perjalanan ini di TTS.

Catatan :
- Suasana TTS sejuk, tidak panas seperti anggapan orang tentang Timor
- Orang Timor tidak mempunyai budaya menjual makanan jadi sangat sulit mencari warung makan disana, kalaupun ada yang menjual biasanya adalah orang Jawa atau orang pendatang
- Banyak orang Boti bergigi merah karena biasa menguyah sirih.
- Hanya Telkomsel yang bisa dipakai menjelajah Timor Barat (bukan iklan lho)
- Orang Boti memegang teguh adat diantaranya dengan tidak memeluk agama modern. Sampai sekarang kepercayaan asli tetap mereka pegang
- Budaya Indonesia itu kaya sayang sekali kalau kita tidak tahu budaya sendiri.

Akhir kata, selamat menjelajahi Indonesia !!!!!

*) Foto-foto akan menyusul segera ....

Posted at 01:44 am by androsa
Comment (1)  

Apr 12, 2009
Mami gereja itu ternyata.......

Siapa sangka wanita penjaga dan pembersih gereja itu, yang sekarang hidup sebatang kara adalah mantan istri perwira KNIL Belanda yang mempunyai anak yang tinggal di Belanda. Kisahnya membuat saya berpikir dan merenung akan banyak hal.

 

Nama lengkap, si mami gereja, demikian ia biasa disebut,  tidak banyak yang  mengetahui, begitu juga dengan pribadinya. Yang saya tahu, sebagaimana jemaat gereja lain, adalah ia membersihkan dan merawat gereja. Ia juga suka sekali memelihara anjing, dan anjing-anjing peliharaannya patuh kepadanya.

 

Cerita hidup si Mami Gereja dimulai saat masa perang kemerdekaan, saat dirinya dipersunting seorang perwira Belanda, bernama belakang Nyland, yang membawa si Mami meninggalkan seluruh keluarganya di Thailand untuk tinggal di Netherlands Indies, nama Indonesia waktu itu. Ia melahirkan anaknya di Surabaya, seperti dibuktikan oleh selembar akta kelahiran berbahasa Belanda dari Surabaya yang sepertinya  dikhususkan untuk orang keturunan Eropa.

 

Perpisahan

Perang berkecamuk dan berlanjut dengan pengakuan kedaulatan Belanda atas Indonesia di tahun 1949. Belanda, termasuk tentara KNIL, angkat kaki dari Indonesia.  Sang suami tentu harus kembali ke Belanda, namun si mami menolak dan memutuskan tinggal di Indonesia, mungkin salah satu alasannya karena menurutnya suaminya berlaku cukup keras kepadanya..

 

Keputusannya untuk tidak mengikuti suami berakibat ia harus berpisah dengan suami dan dua putranya yang dibawa sang suami kembali ke Belanda. Ia harus hidup sebatang kara dan bertahan hidup hingga puluhan tahun kemudian nasib membawanya bertahan hidup sebagai pesuruh di belahan utara Jakarta. Takdirlah yang membawanya bertemu seorang pastur yang membawahi pelayanan Magdalena Group  yang wilayahnya masuk tempat ia bekerja. Ia ditawarkan pekerjaan untuk mengurus gereja dan sejak itulah ia tinggal di gereja.   

 

Pertemuan

Kasih ibu ternyata tak pernah hilang, selama bertahun-tahun ia berdoa, terutama dengan Novena, agar dapat dipertemukan kembali dengan sang anak yang puluhan tahun sudah tak ia temui. Secara kebetulan, meski sebenarnya tidak ada yang kebetulan, ada seorang jemaat gereja yang mempunyai kenalan yang tinggal di Belanda. Lewat orang itulah iklan dipasang di satu penerbitan di Belanda meski sebelumnya juga pernah dilakukan lewat Palang Merah. Doa sang ibu terjawab, anaknya menjawab dan sangat terkejut karena sang ayah memberitahukan jika ibunya sudah meninggal. Singkat cerita, sang anak datang ke Indonesia dan bertemu sang Ibu. Pertemuan yang terjadi, seperti diceritakan sekretaris gereja, sangat mengharukan, mereka langsung berpelukan, menangis dan seperti tidak terpisahkan saat sang anak tertuanya datang. Si Ibu telah lupa bahasa Belanda sedang sang anak tidak bisa bahasa Indonesia. Penampilan fisik tidak berbohong karena sang anak tampak persis seperti sang Ibu walaupun untuk meyakinkannya sang Ibu telah mengirimkan dokumen pendukung bukti otentik ke Belanda.

 

Sayang sang anak kedua masih belum mau bertemu sang bunda, entah sakit hati mungkin masih ada di hatinya. Doa sang ibu masih belum terkabul seluruhnya, karena ia masih rindu untuk "mengeloni" anaknya.  Beberapa tahun setelah pertemuan itu, sang anak pertama meninggal dunia dan sang Ibu masih merindukan pertemuan dengan anak keduanya.

 

Bantuan

Disaat sekarang, saat kondisi Mami gereja itu menurun, ia masih rindu bertemu anak keduanya. Seandainya saja saya bisa membantunya mencari dan membujuk anak keduanya dan tahu tentang ini sebelum berangkat ke Belanda, saya akan membantunya. Meski bahasa Belanda saya sangat terbatas, saya sempat membaca surat dan alamat yang ditunjukkan sekretaris gereja dengan harapan bahwa satu saat saya bisa menolong si Mami. Ya Tuhan, rasanya ingin sekali menolong si Mami agar dapat bertemu dengan anak keduanya di Belanda sebelum akhir hidupnya, meski paling tidak saya bisa berdoa bagi dia.

 

Catatan :

Cerita yang saya dapat sebelum Paskah ini mengingatkan saya akan beberapa hal akan doa yang besar kuasanya, akan kasih seorang Ibu yang tak pernah hilang akan anaknya, juga tentang perjuangan hidup dan rencana Tuhan dalam hidup ini

 

Semoga ini jadi cerita Paskah yang indah bagi kita semua, Selamat Paskah !

Posted at 12:41 pm by androsa
Make a comment  

Mar 15, 2009
Cerita dari Kupang : dari sapi main bola hingga cium hidung

Pernah mendengar sapi main bola? Atau cium dengan beradu hidung? Pernah naik bemo, atau angkot, dengan sound system dengan CD player, remote control, USB input? Pernah melihat kota yang banyak rumah dibangun dengan fondasi batu karang? Kupang memang unik dan tak terlupakan, dan inilah oleh-oleh cerita dari sana.




(foto diatas diambil dari salah satu bukit di Kupang yang memang berbukit-bukit)

Bahasa yang mmm
Kepergian, atau lebih tepat jalan-jalan, ke Kupang memberi banyak cerita lucu. Saat pertama kali mendengar mereka berbicara dengan logat yang membuat saya rada termangu-mangu. Satu saat saya hendak membeli sesuatu, si penjual tangkas menjawab,"Sonde ada". Ooops, untungnya dah belajar istilah kupang, sonde berarti tidak, belakangan saya dengar itu berasal dari kata bahasa Belanda, zonder yang sebenarnya lebih tepat berarti tanpa.

Dan ternyata ada bahasa dan istilah lain yang juga sama-sama lucu,
- penjual bensin yang menulis, 5000 sa...!!!
- seorang saudara bercerita tentang sapi main bola
Ternyata mereka suka sekali menyingkat kata jadi 5000 sa berarti 5000 saja dan sapi main bola berarti saya pigi main bola
Seorang teman bercerita tentang uniknya jawaban orang Kupang saat ia bertanya apa orang atau mungkin juga barang yang ia cari ada, mereka bisa menjawab," Ada, sedang keluar," bukannya langsung mengatakan tidak ada.
Selain kata-kata itu masih ada lagi :
Pung = pu = punya
Oe = air (banyak daerah di Kupang bernama depan Oe)
Deng = dengan
Su = sudah

Belakangan saya juga memperhatikan bahasa sehari-hari di Kupang sangat mirip dengan gaya bahasa di Ambon dan Papua (2 daerah yang ingin tapi belum sempat saya kunjungi)

Budaya yang unik
Jika orang-orang di Jawa merasa cukup bersalaman, adalah sangat wajar untuk saling berpelukan dan bercium pipi saat bertemu saudara di Kupang, tidak hanya untuk pria dan wanita atau antara wanita tapi juga untuk pria dan pria. Dan yang bisa buat orang kaget adalah bercium dengan beradu hidung, hehehehe
Untungnya saya sudah pernah mendengar ini jadi tidak kaget saat melakukan hal itu disana.

Bemo yang ajaib dan makanan Kupang
Meski sudah sering mendengar cerita ajaibnya bemo di Kupang yang dihias meriah dan sound system yang luar biasa, saya tetap saja bengong dan takjub saat melihatnya sendiri. Karena di Kupang saya diantar saudara atau teman juga sempat membawa kendaraan sendiri, meski sempat kehilangan orientasi sedikit, saya tidak sempat merasakan indahnya naik bemo dan baru merasakannya di luar Kupang.

Selama sekitar satu jam, saat turun dari ferri di Pantai Baru, Rote, dan menuju Baa, ibukota Rote Ndao, saya duduk di samping supir, dan ya Tuhan, sound systemnya mereknya terkenal, kalau tidak salah Kenwood, mempunyai remote control, memutar musik dengan CD player, meski CD-nya bajakan. Lantas si pendamping sopir sempat juga mengeluarkan flash disk berisi lagu-lagu. Arrrgh, hebat sekali sound system disini bisa mengalahkan mobil pribadi di Jakarta, hehehehehe. Dan memang saya terhibur dan takjub selama satu jam perjalanan dari Pantai Baru ke Baa

Makanan yang sering saya dengar adalah daging sei dan jagung bose dari Kupang dan memang itulah makanan khas yang sempat saya coba. Daging sei enak juga dan memang khas Kupang yang paling banyak dijual dari sapi dan babi. Kalau jagung bose, hehehe itu saya makan saat traveling keluar Kupang di kampung Suku Boti yang jagungnya rasanya unik. Bagaimana tidak unik, saya makan saat traveling sendirian di tengah kampung yang seperti suku Baduy di Banten, menolak kehidupan modern.

Indonesia itu indah, unik, kaya akan budaya dan sebenarnya jauh lebih menarik daripada yang saya dapat bayangkan. Itu kesimpulan saya setelah jalan-jalan di Kupang (dan sekitarnya)

Catatan :
Cerita lengkap dan foto akan menyusul, semoga sempat menulis lagi. Entah kenapa saya sangaaaaaaaat ingin menjelajah Indonesia Timur di masa mendatang, belum lagi alam dan pantainya yang termasuk salah satu yang paling indah yang pernah saya lihat...


Referensi (layak untuk dilihat)
- Wisata kuliner Kupang
http://www.tmore-online.com/tmore/content/rubric/24/238
- Daging Sei
http://flobamora.blog.friendster.com/2005/08/daging-sei-dari-kupang/
- Cerita Sei
http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/16/16045091/makan.sei.di.kupang

Posted at 03:01 am by androsa
Make a comment  

Feb 10, 2009
Indahnya TN Gede Pangrango dan Salak, dan sampah yang sangat mengganggu

Perjalanan saya beberapa waktu lalu ke Taman Nasional Halimun Salak dan Gede Pangrango, berturut-turut membuat saya terpesona karena keindahannya. Jalur hiking termasuk air terjun, menuju Gunung Gede memang indah dan menyenangkan. Kawah Ratu di kawasan Taman Nasional Halimun Salak juga membuat saya terkagum-kagum akan fenomena alam yang indah. Namun selain keindahan alam yang luar biasa itu, satu hal sangat mengganggu yakni sampah yang membuat saya jengkel, kesal dan sangat merusak keindahan alam di Taman Nasional itu. Saya takut Taman Nasional itu dapat penuh dengan sampah satu saat nanti

 

Kawah ratu, perjalanan menembus hutan

Sesampainya di Gunung Bunder dan setelah menginap di warung, maklum saya mencari penginapan cuma-cuma dan sekaligus mendapat kemudahan memesan makanan, saya memulai trekking dipandu seorang warga lokal yang mengerti jalan menuju ke Kawah Ratu. Sang pemandu, yang saya lupa namanya itu, bercerita panjang lebar termasuk sejarah Taman Nasional dan kegiatan dia sebagai relawan Taman Nasional.

Dari awal perjalanan karena tidak sempat membawa bekal makanan nasi siang, selama 3 jam trekking menembus hutan lebat, saya berbekal coklat dan biskuit untuk energi. Enak juga dan dapat menambah tenaga. Perjalanan pulang, selama sekitar 3 jam, juga menyenangkan. Tapi saya sangat terkejut, bagaimana tidak? Si pemandu membuang botol air mineral dan bungkus coklat pada saat kami beristirahat, sementara saya menaruh sampah di kantung celana dan daypack saya.

Bingung, seorang pemandu yang seharusnya mengajarkan cinta lingkungan malah tidak peduli dengan sampah. Padahal dia juga sempat bercerita tentang keindahan alam yang sudah berkurang misalnya dengan kicauan burung yang jauh berkurang dibanding dulu.

Rasanya kesal, tapi mau bilang apa lagi, saya cuma bisa mengingatkan dia tentang sampah, tapi apakah dia akan berubah setelah teguran saya? Entahlah, saya tidak yakin.

 

Gunung Gede

Di hari berikutnya, saya lanjutkan perjalanan ke Gunung Gede. Saya tersadar akan perbedaan yang jelas terlihat antara Gunung Gede, yang memiliki pohon-pohon yang terlihat jarang-jarang sehingga jarak pandang cukup luas, dengan pepohonan yang sangat rapat di Gunung Halimun Salak. Namun lagi-lagi keindahan terganggu dari pos pemberhentian yang punya banyak sampah. Saat beristirahat di air panas, saya juga sempat memperhatikan banyaknya sampah di sekitar aliran air, ampun daaah. Saat lanjut ke Kandang Badak, saya malah terbengong-bengong karena ada banyak sampah plastik di sekitar tempat pengambilan air. Pff rasanya kesal bener melihat sampah plastik berserak dimana-manan di Kandang Badak. Ternyata sepanjang perjalanan terutama di tempat banyak pendaki memasang tenda dikotori sampah-sampah plastik. Kesal? Jelas saya kesal melihat sampah itu meski untungnya masih tertutup dengan keindahan Gunung Gede terutama kawah dan Suryakencana.

 

Setibanya di Gunung Putri, oleh-oleh sampah sebanyak satu kantong plastik akhirnya bisa saya lepas. Tapi kok sepertinya jarang ada pendaki yang membuang sampah saat turun ya? Semoga saja saya salah.

Saat pulang, di angkot saya bertemu seorang ibu yang bercerita keindahan Gunung Gede di masa lalu. Saya tidak bercerita tentang sampah yang menggangu tapi herannya si ibu spontan bercerita tentang Gunung Gede yang tidak seindah dulu. Ia bercerita bahwa dulu ia sering menemani peneliti asing hingga tahun 1960-an disaat Kandang Badak masih memiliki kamar penginapan yang baik termasuk tempat tidur yang nyaman dan sampah yang tidak ada. Saya tersenyum waktu mendengar ceritanya kalau sekarang Gunung Gede sudah kotor.

 

Peraturan-peraturan

Meski Gunung Gede secara berkala ditutup untuk pendakian dan adanya acara bersih gunung, entah sampai kapan Taman Nasional ini dapat bertahan. Saya sendiri bukan anak gunung, cuma penyuka kegiatan alam bebas dan mungkin belum tentu sempat ikut acara bersih gunung karena kesibukan saya.

 

Saya jadi bertanya-tanya adakah peraturan yang mengharuskan pendaki membawa turun sampah termasuk sanksi untuk pelanggarannya? Jika tidak ada, kenapa tidak dibuat demikian? Saya malah pernah mendengar jika pengunjung Taman Nasional di negeri jiran diharuskan membawa turun sampah. Bahkan pengunjung harus membayar sejumlah uang untuk jaminan, karena jika tidak membawa turun sampah, jaminan itu tidak akan dikembalikan oleh petugas Taman Nasional karena dianggap sebagai pembayar denda.

 

Meski tidak bermaksud membandingkan, rasanya sukar untuk menolak kenyataan bahwa orang Indonesia rata-rata jorok sukar untuk disiplin. Di negara lain sampah malah bisa dipilah hingga berjenis-jenis sebelum dibuang, entah kapan Indonesia bisa seperti itu, tapi rasanya sedih juga melihat keindahan alam terganggu karena sampah. Saya bahkan sempat tersenyum, entah mesem-mesem atau nyengir,  waktu seorang asing di forum diskusi para pengelana menyarankan agar orang asing lebih baik menjadi relawan pemungut sampah di Indonesia daripada menjadi relawan penyelamat satwa, hehehehe.

 

Moral cerita :

Ternyata tidak susah untuk mengatasi sampah, jangan buang sampah di gunung. Tidak susah memasukkannya di kantong sampah dan membuangnya saat turun. Satu hal lagi, Indonesia memang indah apalagi kalau tidak ada sampah dan naik gunung? Siapa takut?

Posted at 12:18 am by androsa
Make a comment  

Feb 2, 2009
The person I long to meet in heaven

What if your life heavily depends on someone's decision whose lifelong impact would be unforgettable? In other circumstances, when we get lost in our journey called life, someone could lend a hand to rescue us. They could be our boss, our faithful friends, neighbour, or our travel mates that I also meet in hospitality network in my travelling. Though we are likely not to pay attention in details but someone's help is of huge importance that I might compare it to angelic hands from heaven.

 

A few weeks ago, I got a chance to taste these angelic hands when I had to stand in the fork. It is his advice that consoled me, his warmth calmed the storm in my mind. His help so far has been so priceless. A person whom I respect is, in fact, worthy of praise due to his tremendous kindness, generosity, and extremely helpful. Hence, I wish for the best thing in his life, I owe him a lot since his help has shaped some of the greatest part of my life. This is the reason why I hope he is to be the person I would meet in heaven.

 

My path in life has also led me to unfortunate events when I had to deal with pain, confusion, uncertainty and sickness. In my travel, I am so thankful for knowing great people through hospitality club called couchsurfing whose members readily come to help me with their intangible help such as room, breakfast and lots of info. Arrggh what a nicer world it would be if everyone is like that. I am also grateful for friends who are eager to accompany me in my times of need, when everything seems so gloomy and painful. OMG, I do wish I meet them too in heaven.

 

It is my longing that the heaven would be a nice place where I meet those people. The ones whose aid has helped me to go through unfortunate part of my life. They are the ones I long to meet in heaven despite the fact that I also hope that heaven would be full of my friends.

 

PS : It is dedicated to someone I really admire and respect who has given me valuable help in my life as well as many people who has been so helpful in my life  

Posted at 11:45 pm by androsa
Comment (1)  

Dec 10, 2008
Mountain hiking and my comfort zone

Why would someone, including myself, leaves his cozy home to endure hours of rigorous trekking, face harsh weather condition, get close to enormous challenge yet still has zeal to reach the peak. On top of it, mountain hikers are more than likely to be addicted to conquer more peaks. These facts eventually lead me to a situation where I could liken the mountain and my personal situation for leaving my comfort zone.

The so-called mountain hiking
Though I'm not a mountain hiking freak, I'm glad to taste the experience of getting thrilled by the challenge of hiking. So far, my sweet memories for mountain hiking indeed outsize the terrible memories. I could recall the first time I joined the hiking journey when I repeatedly asked the similar question,"Is it already close to the peak?" or "Do we still need long time to reach the peak?". Does it remind me that sometimes I run out of patience in facing the gigantic problems in front of me?



It was in this kind of journey when I came to learn the need to work with other team members and encourage one another. In spite of the need for personal skill, friendship is an ultimate need in this journey. I learned the patience when I had to accompany a friend who was really sick. I learn to understand humility when I got firsthand experience to see arrogance in a lost mountain hiker despite the fact that most mountain hikers, not to say all of them, are nice and friendly

It was in the mountain when I could someone's genuine characters, the ones which are usually hidden in mask of personality. In times of trouble, under unpleasant circumstances, discreet character is likely to come out. My experience also made me learn how to encourage myself and the others, just imagine how it feels to lead three persons who had never been on mountain hiking to Rinjani, the second highest mountain in Indonesia.

Getting out of comfort zone has made me learn lots of things ranging from friendship, zeal, character building and how to focus on my goal namely the peak of the mountain.

My comfort zone
My recent situation has made me ponder my previous hiking journey since I have come to the fact that now I stand in the slope of a new 'mountain' in this life of mine. The thrill has me tremble for the fact that this mountain stands before me, the one that needs to be conquered.

I wish I could instantly spread my wings and soar above the cloud to conquer it and leave my comfort zone more easily. Hoping that I could overcome the obstacle and reach my peak soon, I remind myself that the journey is a compulsory need.

A few years ago I also heard the recruitment process, inspired by a Japanese company, conducted by an MLM company in Indonesia where the candidates had to meet the interviewer on top of the mountain. Apparently, it is indeed a nice way to test someone's persistence as well as that person's determination.

Arrgh, at last mountain hiking is supposed to be an enjoyable journey that would give more comfort for my zone. I wish, I pray fervently to the Omnipotent One for getting rid of this trip but I end up realizing that the journey ouf of my comfort is my personal need.

Note : I do wish to throw away the butterflies in my stomach without any treatment as I need to commence this journey (it's my common flaw when it comes to huge problems) and hope that I would manage to reach the peak


Posted at 01:11 am by androsa
Make a comment  

Next Page