|
|
 |
Jan 26, 2012
Longing for eternal summer
“I wish this winter will go away, the weather makes me frozen from head to toe, I’m hoping for the sun”, and “This downpour will soon make the flood besiege my house soon, where is the sun?”
Human being has unquenchable longing thirst for summer. It is not merely sun-seeker westerners since asians, discreetly, also long for summer with different perspective. Those westerners are the ones craving for the sunbathing, looking for the tropical beaches, escaping freezing winter and couldn’t wait to sunbathe at the beach when sunshine is present. On the other hand, Asians hates the rainy season when sunshine is rarely seen, cloudy sky is common sight and continuous rain floods the earth.

Picture above : artificial coconut tree in Zandfoort, Netherlands
Looking for the sun
One day, in Iboih Island, I was not surprised to hear a French man’s story about his escape from winter that he spent some 5 months every year travelling in Asia. In the past, I along with my neighbours also cursed the inundated neighborhood due to the downpour in Jakarta and I remember clearly that we loved it when the sun eventually appeared after that non-stop rain all-day-long
Well, humans are intricate being whose desires are not easily met. I understand how people in Jakarta complain that the scorching sun burns them but once they go holidaying in Bali they seem like sun worshipper who look for sun every single day.
The best way
Personally I think that mediocre weather like Bandung in the past will be ideal for me but it is not ideal for surfers, divers or sea lover. My travel experience has taught me that I do love two things, going to the mountain and relaxing at the beach.
In a nutshell, I must admit that I love summer though at that time touristy place will be, usually, crowded, mountains attract many hikers, diving spot gets many divers and ticket price skyrockets.
Posted at 11:52 pm by androsa
Permalink
Oct 13, 2011
Cara mengenali orang Indonesia di luar sana ...
Ternyata selain bahasa dan tampang, masih ada cara mengenal orang Indo di luar sana. Dari bau, eheeem, selera makanan hingga produk Indonesia.
Di belanda, tergolong mudah mendengar orang berbahasa Indonesia atau bahkan bahasa Belanda logat Indisch. Tapi apa hanya dengan bahasa? Bagaimana dengan luar Belanda? Saya sendiri rasanya lebih sensitif mendengar orang berbahasa Indonesia di luar sana, entah kenapa.
Kalau tampang sih kadang tidak ada bedanya antara orang Indonesia, Malaysia hingga Filipina, malah saya pernah disangka Chinese, tapi ada hal lain yang membedakan. Bahkan pernah di Bali saya disangka bukan orang Indonesia karena bawa backpack gede.
Selera yang sama
Pernah juga kelaparan di Schipol, ada Toko –to-go yang menjual makanan Asia seperti rames dari pilihan daging sapi, ayam, tahu hingga udang, sayuran dan beraneka saus. Saya sempat menduga penjualnya orang Indonesia karena ada tulisan selamat makan di kedai mereka. Setelah memesan dalam bahasa Inggris,si penjual bertanya,” mmm Indonesia?”, hehehe tampang saya Indonesia kali ya, apalagi ngiler liat nasi. Maklum hanya mereka yang jual nasi di Schipol J
Rasanya kalau jalan-jalan pengen juga bawa sambal atau saus sambal, cuma kok repot ya. Maklum lah pecandu sambal dan nasi. Kalau masakan Chinese Food kan ga pedas jadi terasa kurang.
Produk Indonesia
Waktu jalan ke Prague, belum lama ini, ada seorang bertampang Asia yang kebetulan satu rombongan dengan walking tour mendekati saya,”Sorry I am under impression that you are from Indonesia?”,... mmm jelas saya bingung karena pagi itu saya didekati wanita bertampang Asia yang menyangka saya Filipino sama seperti dirinya. Sang wanita itu mengatakan,” I see from your travel bag,it is Eiger”, waaaks padahal merek eiger-nya dah mulai copot. Sorry bukan iklan tapi saya memang penyuka merek itu yang bagus dan harganya jauh lebih murah dari produk luar dengan kualitas sama.
Satu hari saya nongkrong di kafe di dekat kanal di Amsterdam waktu seorang bule mendekati teman saya yang merokok,”sorry, do you smoke kretek?”. Bagaimana saya tidak bengong, setelah itu dia bertanya,”Could I get one?”. Hahahaha ada orang Belanda kangen rokok kretek dan minta teman hihihih. Ternyata si bule cium bau kretek yang khas yang bagi orang Belanda lainnya, rata-rata dianggap aneh.
Di toko Asia, bisa dibilang orang Indo lebih memilih Indomie daripada mie instan negara lain secara rasanya lebih familiar. Saya sendiri suka Indomie dengan mie keritingnya, kalau yang lain mungkin karena rasa yang khas dan jaminan halal.
Logat Inggris versi Indonesia
Satu hari di keraton Yogya, saya tersenyum-senyum mendengar pemandu keraton berbahasa Inggris dengan logat Jawa. Rasanya bagaimanaaaaa gitu. Tapi memang sih orang Indonesia punya logat sendiri dalam bahasa Inggris, jadi kadang bisa membedakan mana orang Indonesia mana bukan. Sepertinya sama seperti logat Inggris dari orang Malaysia atau Singapura yang terasa beda. Katakanlah logat Inggris Indonesia walaupun pernah dalam gathering Couchsurfing, seorang warga Singapura mengatakan logat Inggris saya seperti orang (melayu) Malaysia. Halaaaah
Apa lagi ya? Ada yang bisa menambahkan gak ya cara mengenalinya?
Posted at 03:38 am by androsa
Permalink
Oct 6, 2011
Cerita Sate Belanda yang ....
Pernah makan sate burger? Atau sate dengan french fries? Atau sop gado-gado serta keju campur sambal?
Mc donalds londo bahkan menjual sate burger yang iklannya menampilkan orang bertampang indisch (indonesia)
Dalam iklan kita dapat mendengar logat indisch alias bahasa Belanda logat indonesia yang terdengar beda dengan logat Belanda asli. Ada komentator yang mengatakan kalau video terasa sedikit berprasangka tapi logikanya sate memang diperkenalkan oleh dapur indisch atau nusantara
Satu hari saya tertawa melihat sop gado-gado versi londo yang isinya saus kacang, sempat berpikir ini kreasi sang koki ternyata di amsterdam juga ada yang jual hihihi tidak hanya di Tilburg
Saus sate yang saus kacang
Di holandia, saus sate dijual bebas di setiap supermarket namun bisa membuat orang indonesia kaget karena bumbu saus satenya sangat halus tanpa ada jejak remah kacang tanah di dalamnya. Sate juga dijual di setiap supermarket dari ayam hingga babi :-)
Yang lainnya kita tahu bahwa saus sate tidak hanya dari kacang namun juga dari kecap atau campuran kecap dan kacang. Sate lilit bali malah tidak memakai kacang tanah. Sekilas saus sate belanda tampak seperti bumbu sate padang dengan rasa berbeda
Saya akhirnya memtuskan memakai saus sate dicampur bumbu pecel sebagai salad atau "pecel londo" dengan sayuran siap pakai dari supermarket.
Resto Sate
Di resto fine dining belanda, sate juga dihidangkan sebagai main course tentuny tanpa nasi karena didampingi kentang goreng atau roti :-) memang sate termasuk makanan indisch yang sekarang dianggap sebagai makanan belanda :-p
Sayang seharusnya banyak orang yang tahu serunya beragam sate nusantara dari sate lilit, sate padang, sate kikil, sate telur puyuh, sate kambing dll. Memang di beberapa resto bagus di Amsterdam juga menjual sate kambing tapi sepertinya belum bisa menjelaskan lengkapnya sate asli nusantara.
Dari yang kangen makan sate enak ....
Posted at 04:35 am by androsa
Permalink
Sep 29, 2011
NI hao.... mmm are you not Chinese? .. Who am I?
I was talking to a friend in Amsterdam Central Station when I heard someone behind me kept talking,”Ni hao... Ni hao”. Feeling curious, I looked back and found a Chinese looking man behind me was speaking to me. “What...?”, “You are not Chinese?”, he said to me. “Oh you are not Chinese!” he added without me giving answer. Mmm, do I look like Chinese?
Where I come from?
Perhaps he tought I was Chinese because at that time I was talking to an Indonesian friend of mine who happened to have Oriental face. But me, are you kidding man? I might come from the Souther China but my complexion is nothing like an average Chinese.
But back home, when I went to Glodok and bought real bakpao, the dumpling with pork as filling, the vendor called me “Engkoh”. On the occassion, in Bogor’s Chinatown, the pork satay vendor also called me Engkoh. My wife was almost unable to believe on what she heard.
In Netherlands, someone thought I was Dutch perhaps as someone coming from Suriname, a former Dutch colony where a sizeable Javanese descent still live up to now.
One afternoon, taking my bike to go back home, somebody called, “Hoi Carlos...!”. I looked back to find that he replied “Sorry you are him, you seem like someone from South America”.
That seems confusing for European or Chinese but it doesn’t end there.
Asian and deceitful age
A friend was shocked to know that I have a son and soon said ”Really and how old are you?”. I simply said that she needed to guess. “mmm... 26?”, she said. OMG, I almost fainted when I burst out laughing and felt so happy that I look too young, hahahaha.
A week before, another collleague was really surprise to know how old I was. Indeed, he also made the same mistake to guess my age.
It’s a fact that Asian tends to look younger, not particularly for Indonesian but as far as I am concerned, perhaps alos for some friends, Asians tend to be deceitful when it comes to age.
FYI, age 26 is a kind crucial since on that age a person is still able to get discount for buying ticket but could also serves as sign of getting older once it is passed.
For me looking younger is perhaps supported by the fact that I don’t have beard nor fat J. Trust me I don’t gain significant weight since the last 11 years J
Note :
It is not the first experience that someone thinks I am Chinese but also India, Nepal or Vietnam in Europe.
Posted at 06:20 am by androsa
Permalink
Sep 22, 2011
Pertama kali tiba di Centraal Station Amsterdam, saya terkesan dengan stasiun yang besar dan ramai tapi begitu keluar stasiun mendadak saya merasa mual. Ampun, bau menyengat itu seperti tidak mau hilang di sekitar Centraal Station. Saya langsung sadar, ini daerah turis non Belanda yang banyak menikmati bebasnya menghisap ganja di Amsterdam. Ganja memang legal di Belanda tapi tidak di negara tetangga di Eropa.
Coffee shop di negeri londo punya arti lain bukan sebagai warung kopi tapi tempat orang bisa merdeka menghisap ganja hingga soft drugs. Saya yang sedang jalan kaki atau naik sepeda bahkan pernah langsung tahu saya melewati coffee shop waktu mencium bau ganja yang menyengat.
Coffee shop juga tempat membeli space cake yang berisi soft drugs jadi tidak disarankan makan terlalu banyak dan pulang sendirian setelah makan itu.
Negeri londo punya kebijakan yang berbeda dalam hal drugs dibanding negara tetangga Eropa lainnya. Di negara lain termasuk negara Eropa, ganja adalah hal yang ilegal dan ada sanksi hukum.
Wisata ganja banyak dilakukan oleh turis Eropa karena hanya Belanda negara Eropa yang melegalkan ganja. Mungkin ini salah satu alasan pemerintah londo berencana membatasi penggunaan ganja di coffee shop oleh turis dengan membuat batasan terhadap turis asing.
Hal ini yang membuat saya terkadang malas melintas daerah turistik sekitar Centraal Station karena sampai sekarang masih saja suka mual dengan bau ganja di sekitar Coffee Shop. Mungkin karena saya tidak merokok kali ya.
Pernah saking “familiarnya” saya dengan bau khas itu saya kaget luar biasa mencium bau itu di Leuven, satu kota pelajar di Belgia. Lah, kan tidak ada coffee shop dan juga tidak legal di Belgia. Sepertinya, seperti cerita teman saya, terkadang polisi tidak terlalu keras sama ganja di sana. Sepertinya pengaruh Belanda masih terasa di sana.
Tapi cerita ganja rasanya tidak lengkap tanpa cerita ganja di nusantara
Ganja yang dimakan J
Satu hari di satu kota di provinsi paling barat nusantara, saya terkejut dengan kari kambing yang saya makan di satu kedai makanan ( perlu dicatat orang sana mengatakan warung sebagai kedai). Rasa kari itu enaaaaaak sekali, jauh lebih enak dari kari kambing di daerah lain.
Di lain kesempatan saya terbengong saat makan di satu rumah makan saat melintasi dengan bus menuju provinsi itu. Hah, nasi habis 4 piring? Apa yang salah ya? Saya tidak terlalu kelaparan saat itu. Kata-kata teman saya dan juga pendapat umum banyak orang melintas, makanan di sini enak karena ganja serta menambah selera makan. Benar tidaknya susah dicari pembuktian secara langsung karena rasanya jarang orang mau terbuka secara langsung tentang ganja. Kabarnya ganja dipakai untuk menambah rasa dan selera makan.
Salah satu produk khas lainnya adalah dodol ganja. Hehehehe untuk yang satu ini buktinya saya tahu. Memang tidak akan dijual langsung, tapi dijual berdasar pesanan dari orang yang dikenal sama produsen ganja. Besar pesanan berdasarkan pesanan pembeli misal beberapa kilo. Rasanya masih bisa diperdebatkan untuk mengatakan kalau makanan unik ini adalah hal yang ilegal karena tidak dipakai merokok walau efek sampingnya bisa membuat ngantuk dan menjadi “fly” hehehehe.
Pernah seorang kawan bercerita temannya yang kebanyakan makan dodol ganja mulai meracau dan bertingkah ajaib, hehehehe
Terkadang dari masalah moral dan hukum, rasanya sukar menghilangkan budaya “ganja” jika telah berlangsung beberapa generasi khususnya untuk budaya memasak memakai bahan rahasia tersebut. Tidak heran sampai satu rumah makan di Jakarta dengan menu khasnya sampai disebut-sebut memiliki sambal ganja saking enaknya dan bisa membuat orang ketagihan J
Catatan
-Cerita diatas tidak bermaksud menganjurkan adanya legalisasi ganja seperti pernah diserukan orang-orang di Indonesia. Saya sendiri tidak merokok apalagi ngeganja.
-Beberapa orang di Indonesia pernah meminta agar ganja dilegalkan di nusantara tercinta. Hal ini langsung memicu penolakan di masyarakat
-Di negara Eropa, juga pernah ada demonstrasi meminta agar ganja dilegalkan seperti dilihat di web ini. Menarik juga ternyata ada penelitian ilmiah tentang ganja.
- Menarik juga mendengar beragam pendapat tentang ganja dan makanan ganja.
Posted at 03:41 am by androsa
Permalink
Sep 7, 2011
Sakau atau kecanduan nasi, nasib pecandu nasi

Susahnya orang Asia pecandu nasi di negara non pecandu nasi. Akibatnya rice cooker dibawa masuk bagasi, masak nasi hampir setiap hari dan pergi ke toko Asia untuk mencari beras.
Setidaknya itulah apa yang saya rasakan waktu pergi tinggal di negara yang makanan pokoknya bukan beras eh nasi. Saya putuskan membawa rice cooker ukuran paling kecil untuk mengatasi kecanduan nasi tersebut. Memang sih di sini ada rice cooker sehingga mudah saja membelinya disini tapi ukurannya terlalu besar daripada keperluan saya pribadi yang malah untuk sekali masak nasi bisa untuk dua kali makan. Selain itu membawa rice cooker juga dapat membantu saya sejak hari pertama tiba jadi tidak terlewat tanpa nasi.
Seorang teman asal Eropa terbengong-bengong waktu tahu saya membawa rice cooker di koper saya.
Dulu teman satu apartemen yang Asia masing-masing memiliki rice cooker. Hah dasar Asia J
Manfaat
Selain memasak nasi, rice cooker juga berguna untuk buat pisang rebus atau ubi rebus, satu masakan kesukaan yang enak, sehat dan mudah membuatnya. Pisang rebus tentunya bukan dibuat dari pisang ambon tapi pisang tanduk yang kalau di londo disebut gebaak banan yang arti harafiahnya pisang goreng mungkin karena umumnya dipakai untuk pisang goreng.
Sebenarnya dulu di negeri tercinta, saya pernah memakai rice cooker untuk masak mie instan hingga rebus telur.
Di toko Asia belum lama ini saya bahkan melihat rice cooker tanpa listrik yang dimasukkan ke dalam microwave.
Jenis nasi
Untungnya masyarakat londo sangat terbiasa dengan nasi sehingga tidak harus selalu ke toko Asia. Di supermarket juga ada bermacam-macam beras sehingga membuat saya berkreasi dari beras basmati dari India yang panjang pipih, beras Jepang yang bulat-bulat pendek dan nasinya lengket, beras Turki, beras Suriname hingga beras Thailand. Pernah kapok memasak beras Jepang yang sepertinya tidak terlalu tahan lama atau kaget dengan beras basmati yang lucu bentuknya.
Gara-gara masak nasi, saya berkreasi dengan nasi uduk, nasi merah hingga nasi kuning. Sebenarnya masih ingin berkreasi dengan menambahkan daun pandan tapi bingung mencari daun pandan.
Oh ya, karena pengaruh Indonesia, nasi di Belanda juga sering disebut nasi bukan rijs. Karena memang yang kita makan memang nasi bukan beras J
Sakau nasi
Berapa lama saya bisa bertahan tanpa makan nasi? Rasanya paling lama cuma 2 hingga 3 hari dan setelah itu tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda sakau berat. Paling parah pernah di ibukota Spanyol, saya merasa sakau berat karena ternyata tidak ada yang jual nasi. Selaginya ada, ternyata itu resto Thailand dengan harga per porsi 20 euro.
Ternyata kecanduan nasi itu tidak hilang, siusah hidup tanpa nasi. Memang di nusantara tercinta saya terkadang bosan dengan makan nasi sehingga terkadang makan lontong, yang sebenarnya nasi juga, ketupat hingga lontong yang lagi-lagi bahan dasarnya dari beras.
Tinggal di negeri orang bisa membuat saya sadar bahwa saya adalah pecandu nasi meski tingkat kecanduan saya masih tidak tergolong terlalu parah hehehe.
Sumber foto : Getty Images
PS : Hal yang sebaliknya terjadi jika orang Eropa harus tinggal di Asia karena roti bukan makanan utama dan tidak disediakan sebagai makanan utama.
Posted at 04:13 am by androsa
Permalink
Aug 27, 2011
Mencari akar Belanda di Indonesia
Saya terbiasa sekali mendengar kata-kata seperti,”My father was born in Surabaya”, “I was born in Bogor”,”I am one fourth Indonesia” dari orang Belanda. Kaitan sejarah memang membuat hal itu terjadi, saya sendiri menemui beberapa hal menarik selama ini dari kaitan sejarah, makanan hingga warisan bahasa.
Akar dapat dibedakan antara warga Belanda yang mempunyai darah Indonesia atau campuran hingga Belanda totok yang pernah tinggal di Indonesia
Mereka yang berdarah Indonesia
Seorang teman asal Belanda memutuskan untuk tinggal di Indonesia setelah pensiun di umur 65 tahun, meski lahir di Bogor dan sempat tinggal lama di Hollandia atau sekarang disebut Provinsi Papua, dia putuskan untuk tinggal di Bali. Ia yang tampangnya Indonesia banget, pernah bercerita tentang perjalanannya ke berbagai tempat di Indonesia dan merasakan aura yang menjadi bagian dari dirinya, untuk merasakan kembali tanah kelahirannya. Ia akhirnya merasa nyaman tinggal di satu desa kecil di dekat Ubud sekaligus juga terlibat dalam kegiatan amal di sana setelah membandingkan berbagai tempat dari Yogya, Bogor hingga Bali. Tentunya pensiun Belanda yang ia terima lebih dari cukup atau bahkan, menurut ukuran Indonesia, sangat besar , untuk tinggal di desa yang nyaman dengan sawah di sekitar rumahnya serta antena parabola yang membuat ia mampu menyaksikan televisi Belanda J.
Satu hari seorang teman yang dari tampangnya saya saja saya sempat menduga ia berdarah indo, mendadak bertanya tentang kata-kata aneh asal Indonesia yang masih digunakan di keluarganya seperti aduh, monyet, upil, belek hingga *****t, hahahaha saya terpingkal-pingkal waktu menerangkan terjemahan itu apalagi kata yang saru. Ia mengatakan bahwa salah satu neneknya asli berdarah Indonesia dari Bandung. Ia sempat berujar tentang keinginginannya berkunjung ke Bandung satu saat nanti.
Satu hari seorang teman asal Jawa Suriname sempat bengong waktu liburan di Bali dan Yogya. Tampang jawanya membuat orang sukar percaya kalau ia tidak bisa bahasa Indonesia hehehehe. Liburan ke akar budaya rasanya unik.
Seorang teman pernah mengenalkan saya yang dari tampangnya Indonesia banget seperti tidak Muggle eh berdarah campuran dan ternyata memang ibunya lahir di Bogor. Ia tertarik untuk mengambil pekerjaan magang di Indonesia selama setahun. Rasanya cukup juga untuk mencari akar budaya dan keluarga yang belum pernah ia lakukan di negeri leluhur.
Mereka yang pernah tinggal di Indonesia.
Satu hari di satu restoran di Pantai Iboih, Pulau Weh saya kaget mendengar satu keluarga, suami istri dengan anak-anaknya yang sudah dewasa yang kira-kira berumur 40an tahun bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Saya yang sangat familiar dengan bahasa ini bahkan sehari sebelumnya bisa menebak seorang pria kalau dia berasal dari Belanda hanya dari aksen bahasa Inggrisnya setelah satu kalimat hehehe. Ternyata sang Bapak pernah tinggal di Medan dan Sabang selama beberapa tahun dan ia mencari kembali pengalaman masa kecil setelah puluhan tahun berlalu. Ia membawa keluarganya dalam perjalanan “ziarah”nya.
Waktu makan durian di Ubud karena kebetulan ada ibu-ibu yang jualan durian lokal seorang turis Belanda tersenyum mengatakan betapa ayahnya senang sekali makan durian waktu ia tinggal di Surabaya. Sayangnya ia tidak tertarik makan durian seperti ayahnya apalagi seperti saya J
Sayang beribu sayang wisata sejarah seperti ini tidak digarap, tidak hanya bagi orang Belanda tapi juga bagi penyuka heritage tourism. Di Indonesia juga tidak ada museum sejarah khusus Indisch terlepas dari kenyataan pahit tentang perjuangan kemerdekaan namun banyak fakta sejarah yang mulai dilupakan.
Bayangkan begitu banyak warga Belanda yang terbuang dari tanah kelahiran setelah kemerdekaan karena sentimen anti Belanda dan pimpinan negeri ini yang meminta orang Belanda angkat kaki dari negeri ini. Kedai es krim ragusa dan merek tua peninggalan Belanda seperti Sarang Sari (Limonadestroop) yang merupakan warisan dari warga Belanda atau Eropa yang angkat kaki setelah kemerdekaan Indonesia. Siapa sangka bahkan warga Belanda hitam (zwaart hollander) asal Afrika yang bergabung dengan KNIL juga harus angkat kaki dari nusantara. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa bintang Hollywood berdarah Indonesia seperti Michelle Branch, Van der Beek hingga Kristin Kreuk karena adanya migrasi warga Belanda asal nusantara yang tidak bisa atau tidak nyaman di negeri leluhur mereka di Belanda
Mungkin kata-kata Bung Karno benar juga dalam hal ini, jas merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Saya pernah menulis sebelumnya saya terlahir dalam latar belakang budaya yang berbeda yang membuat saya perlu mencari akar dari sang ayah dalam satu perjalanan yang sangat menyenangkan.
Sepertinya mencari akar keluarga adalah kebutuhan hidup yang sangat manusiawi.
Posted at 05:53 pm by androsa
Permalink
Aug 23, 2011
Jadi pesepeda van holland
Dari cari sepeda bekas dengan harga terjangkau hingga keliling kota dan negara dengan sepeda. Jalan-jalan, belanja hingga ke kantor dengan sepeda di jalur khusus sepeda.
Jenis sepeda
Tidak seperti di Indonesia, pilihan sepeda di sini sangat banyak dari mountain bike, omafiets (sepeda nenek-nenek), tandem bike, sepeda jenis ontel, sepeda lipat hingga bakfiets (sepeda dengan bak di depan. Bahkan di sini juga ada bierfiets tempat orang minum bir sambil naik sepeda. Pilihan terbaik sepertinya sepeda lipat yang gratis jika naik kereta.
Saya harus menunggu seminggu dsebelum dapat memiliki sepeda, akhirnya saudara yang ada di ibukota provinsi Noord Brabant, Den Bosch, memberitahu kalau ada tetangganya yang menjual seli (sepeda lipat) alias folding bike atau vouwfiets. Murah, cuma 25 euro. Sebelumnya sempat mencari sepeda di situs maarktplats.nl yang menjadi situs lelang dan penjualan barang bekas paling terkenal, memang sih ada yang murah dan bagus cuma repot karena mungkin harus pergi mengunjungi si penjual di tempat yang jauh. Sempat juga dulu berpikir impor seli baru dari toko online seli dari Inggris seharga “hanya” 100 euro.
Akhirnya dengan hati gembira dengan naik kereta selama sekitar 1 jam saya sampai ke Den Bosch. Wuah sepedanya terlihat dalam kondisi sangat baik, termasuk lampu sepeda yang berguna di malam hari dan menghindari denda polisi atas sepeda yang tidak memiliki lampu J. Malamnya saya yang belum punya tiket pulang balik harus membeli tiket pulang ditambah tiket khusus sepeda seharga 6 euro untuk perjalanan kemana saja jika sepeda tidak dilipat. Ternyata oh ternyata vending machine atau disebut automaat hanya menerima kartu debit Belanda yakni PIN, Chipknip serta kartu prabayar (Ovchipkaart yang menggantikan strippenkaart), koin euro serta kartu Maestro. Waduh, loket normal sudah tutup, dah semua kartu Maestro saya ditolak. Kesimpulannya ternyata bayar diatas kereta dengan inisiatif kita atau bermalam di Den Bosch.
Naik sepeda kemana-mana
Mungkin hanya di Belanda kita akan sangat terbiasa melihat orang berjas rapi naik sepeda dengan santai karena tidak panas, nyaman dengan jalur sepeda. Orang tua membawa anak naik sepeda dengan dua anak di boncengan, sepeda dengan belanjaan penuh. Saya sendiri bisa pakai jaket kulit manis untuk pergi kemana-mana. Ikuti saja jalur sepeda yang juga punya lampu lalu lintas khusus sepeda dan pengendara mobil yang tidak berani memotong jalur pesepeda.
Menghemat, lebih cepat dan sehat, itu kesimpulan saya. Kalau tidak punya OVChipkaart saya bayar 2,6 euro sekali jalan dengan tram atau metro dalam waktu sejam sehingga kalau bepergian lama habis 5,2 euro atau sekitar 2 euro jika bayar dengan OVChipkaart.
Lebih menyenangkan karena sepeda baik lipat atau tidak bisa dibawa dengan kereta dan jalur sepeda mencapai seluruh penjuru negeri bahkan saya bisa mengikuti jalur sepeda sepanjang kanal, sungai, ladang dan pantai. Seru? Jelas.. Apalagi ditambah kenyataan Belanda yang rata, tidak ada bukit serta cuaca yang tidak panas dengan kelembaban yang rendah sehingga tidak mudah berkeringat.

Foto di depan rijksmuseum di amsterdam
Sepeda lawan sepeda motor
Siapa sangka motor atau skuter semakin banyak di Belanda. Peraturan Belanda beda dengan Indonesia karena untuk pengguna skuter tidak diwajibkan memakai helm meski mempunyai batasan kecepatan skuter maksimal 30 meter per jam. Ini beda dengan motor murni yang umumnya berupa motor sport dengan lisensi dan sistem nomor yang beda. Sempat kaget juga karena skuter bisa masuk ke dalam jalur sepeda. Tapi ya tetap aja kadang batas kecepatan 30 kilometer per jam sering dilanggar di jalur sepeda.
Kapan ya pengguna sepeda di Indonesia bisa naik sepeda nyaman seperti disini?
Posted at 01:32 am by androsa
Permalink
Aug 19, 2011
Ja ik ben terug, balik londo...
Balik ke londo, akhirnya.... Setelah melewati segala macam dari masalah pribadi hingga masalah imigrasi serta visa, saya sanggup juga balik ke Belanda. Masalah pertama, visa dengan segala persyaratannya. Setelah membuat paspor baru karena akan habis dalam waktu 6 bulan ke depan, buka internet ternyata Kedutaan Belanda mensyaratkan pemohon visa harus membuat janji untuk wawancara lewat web. Ternyata tidak mudah karena harus rebutan diantara masa sibuk mahasiswa kuliah dan orang liburan sehingga hanya bisa membuat janji paling cepat tiga minggu di muka. Wawancara, melengkapi dokumen, termasuk dokumen eks verblijfdocument, bayar visa dengan uang pas sampai akhirnya visa keluar 2 minggu kemudian. Singkat cerita, KLM membawa diriku dalam 14 jam terbang diluar transit gak penting di Kuala Lumpur. Akhirnya terkaget juga dengan suhu 14 derajat di luar Schipol, tidak mendapati penjual SIM card di airport sampai akhirnya menghabiskan sekitar 650 ribu rupiah (kurs sekarang ya) hanya untuk taksi dengan mobil mercedes untuk sampai tujuan, ya ini taksi paling mahal seumur hidup sama dengan tiket jakarta-denpasar. Jetlag membayangi apalagi dengan perbedaan 5 jam dan perjalanan pesawat membuat ngantuk berat 
Masalah kedua: sepeda hingga SIM Card. Ternyata tidak mudah mencari SIM Card untuk telepon pintar, dodol banget operator telepon Belanda karena memblokir telepon pintar untuk akses data karena akses internet untuk telepon biasa tetap jalan tapi akses untuk hp android malah diblokir. Untungnya wifi gratis ada dimana-mana Sepeda juga bukan hal mudah di Amsterdam, maklum sepeda bekas juga mahal, banyak benar yang harganya sampai sekitar 1,2 juta rupiah (sekitar 100 euro) hanya untuk sepeda bekas. Dari ubek-ubek Mas Gugel Map untuk cari fiets winkel di sekitar ternyata mahal dan banyak yang tutup di sore hari. Masalah terpecahkan setelah dapat sepeda dari kota lain. Untungnya pengalaman tinggal di negeri ini membuat sangat familiar dengan Albert Heijn hingga perusahaan kereta belanda dengan websitenya. Ternyata sekarang tidak perlu lagi buka 92920v.nl untuk cari jadwal bus, kereta dan tram tapi cukup buka Mas Gugel Map untuk jadwal angkutan umum dan jalur pejalan kaki Cerita selanjutnya akan menyusul
Posted at 03:52 am by androsa
Permalink
Aug 12, 2011
Finally, being a global citizen
A few years ago, I wrote that I was a global citizen wannabe. Back then, I just wondered and became curious about the possibility of it. Changing phone number, having no permanent address but email. For the next months and the coming years, I will commute internationally. I do need to explain in a longer way where I come from. It is indeed a bit confusing. This week, I begin a new chapter of my life where I need to adjust myself to new culture, hopefully my dutch will improve, my skill for adaption gets better, being able to learn in a faster way, being able to take my precious family, my lovely wife and kid to be united. As a (self-proclaimed) family man, it is a completely difficult to be far from them. It is a great adventure that I wanna share with in the future, my son is undoubtedly will be exposed to the international taste from the very beginning. Arrrgh, who says dream is not possible..but frankly it is not something easy and it is also a life changing decision . Also a farewell event to my home country and city. Though partly sad, it is a something I have and like to do as a travel freak ....
Posted at 03:03 am by androsa
Permalink
|